Consider me as a "ronin" (wandering samurai) who has a knack of wanting to write anything
Sabtu, 17 September 2022
Lelaki Tipeku
Sabtu, 10 September 2022
Sekuel Catatan Iseng Album-album Lagu Barat ...
- The 2nd Law, Muse (2012)
- Go, Jónsi (2010)
- Danger Days: The True Lives of the Fabulous Killjoys, My Chemical Romance (2010)
- Riot on an Empty Street, Kings of Convenience (2004)
- We Don't Need to Whisper, Angels & Airwaves (2006)
- Death of a Bachelor, Panic! At the Disco (2016)
- The Resistance, Muse (2009)
Penggemar cerita 1984 karangan George Orwell pasti akan menyukai album ini karena album ini disusun berdasarkan kisah tersebut. Tidak ada salahnya kalaupun ingin mendengar album ini secara santai. Dapat dipastikan bahwa Muse membuat album ini dengan sepenuh hati dan niat beserta inspirasi dari musik-musik klasik yang kental dalam The Resistance.
- 35xxxv, ONE OK ROCK (2015)
- Thick as Thieves, The Temper Trap (2016)
- So Wrong, It's Right, All Time Low (2007)
- On Your Side, A Rocket to the Moon (2009)
- Sempiternal, Bring Me the Horizon (2013)
This is Sempiternal! Album ini memiliki narasi yang solid di tiap lagunya ataupun sebagai kesatuan album yang utuh. Cocok untuk didengarkan ketika nge-gym dari pemanasan peregangan hingga pendinginan.
- AM, Arctic Monkeys (2013)
- Some Nights, fun. (2012)
- Blink-182 (untitled), Blink-182 (2003)
- Under the Iron Sea, Keane (2006)
- Only by the Night, Kings of Leon (2008)
- American Beauty/American Psycho, Fall Out Boy (2015)
- That's the Spirit, Bring Me the Horizon (2015)
Minggu, 07 Agustus 2022
Pesan Untukmu
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tahukah kamu mengapa suatu pesan selalu diawali dengan salam?
Kata 'selamat' di bahasa Indonesia diturunkan dari kata 'salam' dalam bahasa Arab. Mengucapkan salam berarti mengharapkan keselamatan untuk orang yang mana pesan tersebut ditujukan. Keselamatan itu penting, lho, di dunia yang mengandung banyak mara bahaya ini. Tanpa keselamatan, bagaimana pesan itu bisa sampai? Tanpa keselamatan, bagaimana kamu akan membaca tulisanku ini?
Ya, aku mengharapkan keselamatan bagimu. Dan, ya, aku punya pesan untukmu. Dalam bahasa Indonesia (meski bahasa Inggris adalah bahasa dunia secara global). "Mengapa?" Karena aku orang Indonesia dan bahasa Indonesia adalah bahasa ibuku. Omong-omong soal ibu, aku jadi ingin tahu kabar ibumu, lalu ayahmu, lalu keseluruhan keluarga dan teman-temanmu, tetapi mari kita simpan itu untuk lain waktu. (Toh, aku mengharapkan keselamatan untuk mereka juga.)
Oke, sudah basa-basinya. Ada hal yang mau aku tanyakan. Menurutmu, apa yang membuat manusia melanjutkan hidup? Apakah cita-cita? Apakah mimpi? Banyak motivator yang bilang kalau mimpi adalah bahan bakar seseorang melakukan sebuah pekerjaan, menebarkan manfaat, dan mendapatkan kekayaan. Kalau begitu, apakah mimpi sudah terlalu diglorifikasi? Dan setelah suatu mimpi terwujud, apakah kita berhenti bermimpi? Atau ada mimpi baru? Mimpi yang lain?
Apakah itu adalah orang yang tersayang? Kalau orang yang tersayang itu tiada, apakah kamu akan tiada juga? Apakah kamu akan berhenti melanjutkan hidup? Apakah kamu akan merasa sendirian? Merasa kesepian? Merasa tidak punya siapa-siapa lagi? Manusia-manusia sebenarnya saling membutuhkan, bukan?
Aku baru saja mendengarkan dua lagu Indonesia, Apatis dan Separuh Aku. Dunia penuh ke-random-an berupa, katakanlah, jurang-jurang bahaya berkeliaran dan padang rumput hijau yang bahkan tidak terhampar seperti di lagu Apatis. Akan tetapi, di sinilah kita, masih hidup hingga saat ini. Mau bagaimana pun, kita harus melewatinya. Agar kita bisa melewatinya, ada satu orang yang wajib kita rangkul: diri kita sendiri. Diri kita memiliki kecenderungan untuk mencari apa pun yang mampu membuat kita merasa lengkap seolah-olah melengkapi separuh dirinya. Bisa jadi cinta, bisa jadi cita-cita. Jika diri ingin merasa lengkap, kita wajib mengenal diri sendiri sehingga kita tidak seperti orang yang sudah dibelah separuh, kehilangan setengah bahkan hingga keseluruhan esensi. Meskipun tampak demikian, dengan mengenal diri, kita tidak akan pernah sendirian. Cukup dengan membuka mata, menghadapi dan menantang dunia, merefleksikan kesalahan kita, dan belajar berwibawa. Selanjutnya, terserah bagaimana kita berjuang mewujudkan mimpi selama itu membuat kita, para manusia, berkembang dan menjadi makin baik.
Tidak apa-apa jika kamu tidak punya mimpi.
Dan jika kamu punya mimpi dan tidak mau memberitahuku atau siapa pun, itu pun tidak apa-apa—asalkan kamu menuliskannya di suatu tempat untukmu sendiri. Menulis ekuivalensinya mengukir doa.
Mungkinkah melengkapi diri sudah merupakan sebuah mimpi itu sendiri, yang menjadi bahan bakar, yang membuat kita bersemangat hidup? Aku menawarkan pertanyaan atau pernyataan ini untuk kita pikirkan.
Kehidupan ini sesungguhnya indah. Aku senang kamu hidup saat ini, di kehidupan ini. Tidak perlu bermimpi terlalu tinggi, tidak perlu keras-keras berusaha. Hanya hidup. Aku merasa senang bahwa kamu membaca tulisanku sampai sini saat ini juga.
Aku tidak mengharuskanmu melakukan atau memfavoritkan sesuatu di atas hal lainnya. Kehidupan adalah belajar tentang keseimbangan. Hal-hal yang berlawanan dan sangat berbeda ternyata saling melengkapi dan saling membutuhkan. Bisa jadi, satu tiada, semua pun tiada. Ada yin, ada yang. Ada cahaya, ada bayangan. Ada terang dan gelap. Besar dan kecil. Cepat dan lambat. Teratur dan kacau. Panjang dan pendek. Dan masih banyak lagi. Menyeimbangkan aspek-aspek berlawanan, terutama dalam diri, bisa membantu untuk mengenal diri sendiri. Kamu akan menyayangi kelebihan dan kekuranganmu, kekuatan dan kelemahanmu, menerima dirimu sendiri karena dirimu adalah hal esensial yang kamu punya untuk melanjutkan hidup.
Sekarang, mungkin kamu bertanya-tanya "Siapa kamu?" Siapa sebenarnya diriku ini? Siapa aku yang secara semena-mena kini sedang mendoakan dan menyemangatimu? Itu, aku sendiri masih ingin mencari jawabannya. Namun, aku yakin aku akan menemukannya. Kalau kamu juga sedang mencari tahu, aku yakin kita sudah setengah jalan. Kita pasti bisa. Trust me! Percayalah!
Kita temukan diri kita masing-masing sebelum kita saling menemukan satu sama lain. Oke?
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga kamu selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa.
Kamis, 30 Juni 2022
Taman Bunga Misterius
Saat ini, aku sedang berada di Jombang, Jawa Timur, rumah keluarga besarku dari sisi ibu. Rumah keluarga besarku ini terletak di blok yang tidak terlalu besar dengan neighbourhood yang tidak terlalu banyak juga. Nah, ada satu rumah yang cukup dekat dari rumah keluarga besarku ini yang dari depan tidak terlalu kelihatan besar, tetapi ke belakangnya luas. Di pelatarannya ditanami bunga-bunga kembang kertas Zinnia dan bunga matahari. Sebagai penyuka bunga matahari, aku selalu mengagumi bunga-bunga matahari yang ditanam di halaman depannya, yang dekat dengan pagar rumahnya. Satu hal lagi yang kuketahui adalah rumah itu dihuni seorang pria yang sering merawat tamannya sambil bertelanjang dada.
Suatu ketika, aku baru saja berjalan balik ke rumah dari jalan-jalan sore di sekitar perumahan keluarga besarku. Tidak lupa aku mengamati bunga-bunga matahari itu sambil jalan. Tiba-tiba, ada seorang ibu tetangga yang rumahnya tepat di sebelah rumah keluarga besarku terlihat memanggilku agar mendekat. Aku mendekati si ibu yang berdiri di depan rumahnya. Beliau mengatakan sesuatu kepadaku dalam bahasa Jawa. Aku tidak begitu ingat lengkapnya dan aku tidak sepenuhnya jago bahasa Jawa. Namun, aku coba transliterasikan sebisaku, begini katanya:
"Pria yang tinggal di [rumah kecil dengan taman bunga itu] tampaknya gila. Dia pernah membawa kresek-kresek besar berisi kresek-kresek lagi. Anak-anak kecil yang mendekati rumahnya sering disahutinya (maaf, di kalimat ini, aku tidak yakin apa yang dimaksud si ibu untuk diterjemahkan). Ya sudah, setelahnya, aku tidak berani menyapanya lagi."
Aku mendengarkan kata-katanya lalu aku izin pamit dan meninggalkan si ibu. Di rumah keluargaku, aku memikirkan yang kualami tadi. Hal pertama yang terlintas di benakku adalah "Kalau pria itu memang gila, mengapa tamannya cukup terawat?" Jangankan tamannya yang terawat, sekadar tamannya ada saja sudah cukup aneh. Aku mengerti satu-dua hal mengenai berkebun dan aku mengamati bahwa tanah tempat bunga-bunganya tumbuh bukanlah tanah yang subur dan gembur (bukan tanah, pasir malahan!). Menanam bunga di media tanam seperti itu pasti butuh kerja keras agar dapat tumbuh dan mekar berbunga. Yah, aku tidak tahu, sih, apakah bunganya hasil stek batang atau dari biji, tetapi bunganya cukup sehat sehingga bunga yang kuncup mekar dan yang kecil membesar. Terakhir kulihat, pria itu juga masih sedang merawat tamannya.
Aku tidak tahu soal kresek-kreseknya, tetapi aku juga menyimpan kresek-kresek dalam kresek. Sekilas aku teringat meme plastic bag-ception yang pernah kulihat di 9gag (dasar otaknya penuh meme!). Mungkin kreseknya untuk persediaan?
Kalau tentang anak-anak, aku rasa, pria itu tidak ingin tanamannya diganggu oleh anak-anak. Secara, anak-anak masih sangat aktif dan belum terlalu terkontrol. Sementara aku, yang sudah 20 tahunan hanya memandangi untuk mengagumi tanpa merusak ataupun menyentuh bunganya. Jadi, aku aman-aman saja, bunganya pun aman.
Mengenai bertelanjang dada, yah, mungkin memang begitu nyamannya. Toh, itu masih aman kalau dilihat dari sisi aurat laki-laki. Perawakannya agak seram, jadi wajar kalau ada rasa takut. Akan tetapi, sejauh ini, aku belum pernah diganggu pula olehnya.
Satu lagi yang membuatku terkejut, ternyata memang masih ada saja budaya "bisik-bisik tetangga" yang sangat kentara. Mungkin karena aku tinggal di kompleks yang orang-orangnya cukup ramah dan jarang menghakimi selama ini. Mungkin pria itu memang bukan orang yang ramah dan kalau kita memilih untuk tidak menyapanya juga bukan masalah. Dariku sendiri, aku mengapresiasi taman bunganya yang indah dan kemampuan pria itu merawat tamannya meskipun hampir-hampir tidak akan berinteraksi langsung.
Kesimpulanku, jika intuisi kita meminta kita untuk jangan langsung percaya sesuatu, coba ikuti dulu saja. Setelah itu, kita ber-tabayyun, mencari tahu lebih lanjut. Bahkan di bidang hukum ada yang namanya "praduga tak bersalah". Bukankah kita dianjurkan untuk berprasangka baik terlebih dahulu?
Yah, semoga saja taman dan bunga-bunganya tetap terawat hingga aku kembali lagi ke rumah keluarga besarku. Kalau tetap terawat, dugaanku mengenai pria itu belum tentu gila bisa jadi benar. Mungkin bukan gila, melainkan lebih ke eksentrik, ya.
Cukup sekian dariku.
Sabtu, 04 Juni 2022
Ode untuk Seorang Putra
Leaves from the vineFalling so slowLike fragile tiny shellsDrifting in the foamLittle soldier boyCome marching homeBrave soldier boyComes marching home
Terlepas dari konflik di beberapa titik, kita hidup di masa yang relatif stabil, tidak dalam keadaan berperang. Namun, apakah kita akan bisa terhindar dari yang namanya kehilangan? Tidak, tidak ada yang abadi. Mortalitas akan menjemput kita; setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Orang-orang yang dekat dengan kita akan menjauh dan meninggalkan kita.
Aku membuka tulisan ini dengan lirik lagu Leaves from the Vine yang ada di kartun Avatar: The Last Airbender untuk menggambarkan kesedihan orang tua yang kehilangan anaknya, baik saat perang maupun saat damai. Pasti kita pernah dengar kalimat yang mirip-mirip sebagai berikut: "Istri yang ditinggalkan suaminya disebut janda. Suami yang ditinggalkan istrinya disebut duda. Anak yang ditinggalkan orang tuanya disebut yatim dan/atau piatu. Namun, tidak ada sebutan untuk orang tua yang ditinggalkan anaknya karena rasanya sulit dideskripsikan." Ya, karena sesedih itu. Dalam konteks peperangan, aku mengambil kata-kata Heredotus:
In peace, children bury their parents. In war, parents bury their children (because war violates the order of nature).
Satu hal yang pasti: mereka tidak meninggal secara sia-sia.
Mereka yang berjuang membela negaranya. Mereka yang melakukan perjalanan demi kebaikan. Mereka yang beribadah. Jika mereka kembali ke Yang Maha Berkuasa dalam keadaan yang baik, mereka akan diberikan tempat yang baik pula di akhirat. Bahkan mereka dinyatakan syahid dalam hadis riwayat Abu Daud (nomor 3111) ini:
Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ‘azza wa jalla itu ada tujuh orang, yaitu korban wabah adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan (dalam keadaan nifas atau dalam keadaan bayi masih dalam perutnya) adalah syahid.
Untuk yang merasakan kehilangan, Tuhan pun sudah menjanjikan pengampunan dan ketenangan hati. Setiap kali kehilangan, akan ada sesuatu yang bisa menggantikan hal yang hilang itu, entah materi fisik atau hal abstrak seperti ide, kesehatan, atau sekadar hari-hari baru untuk dijalani. Tentu siapa pun yang menerima hal baru tersebut harus sudah ikhlas terlebih dahulu, bahwasannya Tuhan menyayangi hamba-Nya yang Dia ambil lebih daripada yang merasa kehilangan, kita manusia terbatas.
*It's just bad to lose people you love. It's too sad to be true. But, we need to accept it.
— I C 🎉 (@IceSea_D_A) June 3, 2022
We caught them like fireflies in a jar, collected them like flower petals. Eventually, they'll die or wither, so it's best to let go.
And it's always a hard pill to swallow.https://t.co/rn457MB4d1
Saat ini, aku merasa seperti kehilangan seorang adik. I feel like I just lost a younger brother. Meskipun tidak sedarah, ada sesuatu yang lenyap dari diriku seolah benar-benar aku yang ditinggalkan. Mungkin karena ia merupakan bagian keluarga dari pemimpin daerah tempat aku tinggal, yang mengeklaim sebagai orang yang menyebarkan kebahagiaan pada tulisan bio media sosialnya (dan memang benar adanya beliau sosok yang seperti itu), sehingga beritanya begitu viral. Akan tetapi, kita semua yang manusia, kita mengetahui bahwa penyebar kebahagiaan pun bisa dan tengah berduka, dan kita turut memiliki perasaan kehilangan dan ditinggalkan itu. Beliau kehilangan putranya yang merupakan adik tingkat satu tahun di bawahku. Coba bayangkan kalau itu adalah anggota keluarga kita. Berapa kali lipat kesedihan kita? Pihak keluarga telah mengikhlaskan dan sudah ada imbauan melakukan salat ghaib, yang di situlah puncak kesedihanku beberapa hari ini. Sang putra tidak akan kembali.
Sayang sekali aku dan sang putra belum kenal dekat dan berinteraksi. (Waktu zaman diklat divisi keamanan OSKM ITB 2018, aku menghabiskannya di osjur himpunan di Jatinangor.) Sebagai orang yang senang mengobrol, aku rasa, mungkin di lain waktu dan kehidupan, ada suatu kesempatan agar kita berbincang.
Aku nyatakan tulisan ini sebagai "ode" karena meskipun berakhir penuh dengan laranya hati, sang putra tetap menang terhadap dunia ini. Aku perhatikan, banyak sekali yang merasa kehilangan sehingga aku meyakini sang putra memang orang baik yang telah memenangkan hati banyak orang. Kini, kita hanya bisa berdoa supaya ia juga menang di alam lain sana.
Semoga ia beristirahat dengan tenang dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya serta orang-orang yang ditinggalkannya diberikan ketabahan.
Termasuk diriku.
Senin, 30 Mei 2022
Tentang Penggemar
Pernah enggak terpikir kalau kita punya penggemar rahasia? Siapa? Apakah itu orang yang tak dikenal atau justru teman terdekat kita? Ada berapa? Mengapa mereka bisa menggemari kita? Kok bisa gitu, lho.
Baru-baru ini, aku dibuat penasaran dengan keberadaan penggemar rahasia. Ada orang yang menyukaiku, tetapi mereka tidak mengatakannya secara langsung kepadaku, atau mereka sama sekali tidak mengatakannya. Entah mengapa. Mungkin mereka malu atau takut (apakah aku menyeramkan/mengintimidasi?) atau merasa bahwa hal itu tidak diperlukan atau tidak penting (lah kok?). Kalau begitu, sudah berapa lelaki yang aku buat memendam perasaannya? Mungkin aku yang tidak peka, bodohnya aku. Oke, waktunya kembali belajar agar jadi pintar. Memang agak sulit merasakan menjadi orang lain, tapi setidaknya, aku belajar berempati dan menurutku, memang ada banyak manfaat dari berempati serta pembelajaran tentang empatinya. Aku mampu merasakan apa yang teman-temanku dan orang lain rasakan; dari situ, aku juga mampu belajar.
Aku tahu beberapa kelebihan dan kekuranganku. Bisa jadi, ada beberapa dari itu yang membuat orang lain suka kepadaku. Banyak teori yang bilang, semakin percaya diri seseorang, semakin banyak juga yang akan menyukai orang tersebut. Kepercayaan diri menyangkut rasa nyaman seseorang dengan dirinya sendiri setelah mengetahui potensi-potensi dirinya, kelemahan dan kekuatannya (sambil coba bikin SWOT). Apakah aku nyaman dengan diriku sendiri? Tidak juga. Yah, kadang-kadang. Ada saat di mana aku tidak merasa percaya diri. Namun, aku bersyukur jadi diriku dan mencoba untuk menyukai diriku sendiri. Soalnya, cuma aku dan Tuhan yang tahu apa yang bisa dikembangkan dari diriku. Tapi, tentu aku punya titik buta yang bisa saja dapat dilihat orang lain. Jadi, kalau ada yang mau kalian lakukan dan sampaikan untukku, beri tahu saja! Mungkin itu berkaitan dengan titik butaku. (Kalau tidak bisa langsung, bisa lewat tautan bit.ly/KronikBuatAisy atau Secreto secreto.site/19195298 ini.)
I may sound cocky writing this, but this is just my honest thought. Dan terima kasih sudah membaca sampai sini hhe. Sudah. Itu saja.
Jumat, 13 Mei 2022
Catatan Iseng: 15 Album Lagu Barat untuk Didengar dari Saat Mulai sampai Selesai!
- I-Empire, Angels & Airwaves (2007)
- The Black Parade, My Chemical Romance (2006)
- American Idiot, Green Day (2004)
- 21st Century Breakdown, Green Day (2009)
Sering disebut sebagai sekuel American Idiot karena kemiripan tema.
(Lebih bagus atau tidaknya bergantung pendapat subjektif masing-masing
individu.)
- Black Holes and Revelations, Muse (2006)
- Dark Before Dawn, Breaking Benjamin (2015)
- Drones, Muse (2015)
- Everyday Robots, Damon Albarn (2014)
- Human, Three Days Grace (2015)
- Lifeforms, Angels & Airwaves (2021)
- OK Computer, Radiohead (1997)
- Three Cheers for Sweet Revenge, My Chemical Romance (2004)
- We Sing. We Dance. We Steal Things., Jason Mraz (2008)
Jumat, 01 April 2022
Semesta dan Kodenya
Selasa, 18 Januari 2022
Jejak Senjakala
Sudah nyaris seumur hidup aku mencari jawaban dari “Apa itu pemimpin?”, “Apa arti kepemimpinan?”, dan untuk beberapa saat, aku sering melihatnya ada pada dirimu. Dahulu, aku melihatmu sebagai seorang pemimpin, pemandu, mentor, serta sumber ilmu untuk belajar memimpin dan mencinta. Sampai-sampai aku berpikir kalau aku mulai merasakan cinta. Cinta yang membuat bertanya-tanya “Apakah aku mencintaimu? Ataukah aku mencintai kepemimpinan?”.
Mungkin kamu dan orang-orang itu, orang-orang yang katanya mencintaimu dan kaucintai, bilang bahwa kalian lebih menyukai matahari terbenam di saat senja. Ketahuilah, aku si anak kemarin sore, bocah ingusan yang selalu mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Aku malah ingin bilang kalau aku tidak terlalu menyukainya karena itu berarti tanda aku akan berpisah denganmu. Dan mungkin memang lebih baik begitu. Aku harus memisahkan diri darimu karena aku tidak mau terlalu bergantung kepadamu. Kebahagiaanku, kepintaranku, pekerjaanku, seharusnya semua itu tidak dipengaruhi olehmu.
Saat aku akhirnya berpisah denganmu—sebentar, kita mundur sedikit. Sebelum aku berpisah denganmu, aku selalu menyadari adanya beberapa persamaan di antara kita. Namun, aku bukan refleksimu. Kamu bukan milikku dan kamu bukan aku. Aku mungkin seorang pemimpin, begitu juga dirimu, tetapi aku harus tahu bahwa kita adalah pemimpin yang berbeda. Kita pun akan memimpin dengan cara yang berbeda. Hanya saja, lucu juga kalau mengingat aku berkali-kali meminta saran darimu, yang belum tentu cocok untukku, kusukai, dan bahkan kuturuti. Yah, itu tidak berarti aku menyesalinya. Bukankah kita diminta untuk melihat sesuatu dari banyak perspektif? Dengan begitu, kita bisa belajar berempati. Kini, biarkanlah aku melangkah dari bayang-bayangmu selagi bayanganmu di sore hari makin memanjang hingga ia tidak bisa meraihku lagi dan aku hilang di kegelapan. Aku butuh tidur sehingga hari esok mendatang bisa lebih baik sesuai intuisiku.
Aku hanya perlu menunggu lalu membuka jendela di pagi hari, melihat matahari terbit yang kusukai dan membuatku tersenyum.














