Sabtu, 17 September 2022

Lelaki Tipeku

Bolehkah aku mengenalmu? Menyapamu saat di jalan? Memanggilmu ketika aku membutuhkanmu?

Alunan lagu "Taste in Men" dari Placebo berputar-putar di telingaku. Ini adalah salah satu lagu Placebo favoritku karena cukup enak didengar, tetapi materi lagunya sendiri terlalu berat untuk aku rekomendasikan ke orang lain, terutama ke lelaki yang kusuka. Yah, aku agaknya bakal menyembunyikan fakta bahwa aku penggemar musik rok meskipun mereka, sih, bisa terima-terima saja.

Itu juga yang menjadi masalahku. Ada lelaki yang aku suka yang juga menikmati lagu rok. Aku berusaha untuk menjembatani percakapan tentang lagu-lagu rok dan grup yang bisa jadi kami berdua sukai dengannya. Tapi, kapan? Dan pertanyaannya selalu: "Kapan?"

Aku ini orang yang pemalu, tetapi aku suka mengobrol dengan orang lain. Kenyataannya, aku tidak butuh tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk memulai obrolan dengan orang lain. Justru, ketika aku sedang merasa rendah-rendahnya, saat itu juga aku perlu mengobrol dengan orang lain agar aku bangkit lagi serta tahu "mengapa" dan "bagaimana" dalam menjalani hidup. Ada saat di mana aku merasa percaya diri, ada juga yang tidak. Nah, apa sebenarnya yang menghalangiku mengobrol dengan lelaki yang kusuka baik di saat aku percaya diri maupun di saat aku sedang tidak percaya diri? Aku harusnya bisa mengobrol di antara kedua waktu itu, bukan?

Begini, berdasarkan pengalamanku, waktu adalah elemen yang amat penting dalam sistem cinta. Waktu punya kekuatan untuk mengatur arah gerak ke mana keseluruhan sistem akan menuju. Kalau waktunya tidak tepat, ya, bisa hancur sistem cintanya. Mungkin aku trauma? Karena pernah satu-dua kali sistem cinta yang kubangun hancur? Yah, bukan hanya sebab masalah waktu, sih. Aku memang pernah gagal, maka aku mau belajar lebih banyak lagi.

Bagaimana caranya agar aku tahu kapan aku bisa mengobrol dengannya?

Toh, aku tahu apa yang harus kukatakan.

Aku ingin bilang kepada lelaki yang kusukai, "Bahwasannya kamu keren, kamu lucu, kamu pintar, itulah dirimu. Kamu adalah pemimpin. Aku menyukai kepemimpinanmu, tapi ada aspek-aspek lain yang ingin aku suka. Makanya, aku akan sangat menikmati berbincang denganmu agar aku paham dan mengerti. Karena kamulah lelaki tipeku. Aku menghormatimu, pasti. Jadi, bagaimana kalau kita mengobrol berdua saja? Kapan?"

Di saat tulisan ini selesai, aku masih mencari tahu caranya.

#KronikKepemimpinan

Sabtu, 10 September 2022

Sekuel Catatan Iseng Album-album Lagu Barat ...

Sebelumnya, aku telah menulis 15 album worth to binge-listening di sini dan sebaiknya kalian membaca yang pertama terlebih dahulu. Sekarang, aku ingin menambah daftar album-album yang enak untuk didengarkan dari awal sampai akhir sebanyak 15 album. Jadi, langsung saja untuk melanjutkan membaca.
(Mohon lanjutkan, biarkan Bill Clinton menikmati sendiri album-albumnya.)

  • The 2nd Law, Muse (2012)

Beberapa penggemar Muse mungkin tidak begitu menyukai album ini karena terdengar terlalu elektronik, padahal itulah esensi dari masa-masa eksperimental Muse. Ada dua alasan untuk mendengarkan album ini: 1) Kalian sedang bingung saat belajar termodinamika, dan 2) Kalian sedang patah hati. (Oke, untuk alasan kedua, aku mengarang karena kebetulan aku pribadi sedang patah hati saat mencoba mengulas album ini.) Namun, sekalipun album ini tampak serius, sebenarnya ini merupakan album yang menyenangkan, full of fun. Memang, ada bagian yang membuat patah hati, yaitu pada lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Chris Wolstenholme, basis Muse, setelah mengalami penanganan mengatasi alkoholisme. Sekali lagi, mendengarkan The 2nd Law bisa menjadi sarana belajar yang menyenangkan.

  • Symphony Soldier, The Cab (2011)

Symphony Soldier penuh dengan lirik yang kreatif tentang perang, cinta, perjuangan, dan kepercayaan. Mendengarkan Symphony Soldier seperti merasakan sendiri menjadi malaikat di film City of Angels yang dibintangi Nicholas Cage dan Meg Ryan, hanya saja lebih berkonteks pada keadaan perang. Mungkin yang paling dikenal dari album ini adalah lagu "Angel with a Shotgun" yang dijadikan versi nightcore. Makanya, akan lebih lengkap rasanya kalau bisa mendengarkan semua lagu di album ini.
 
  • Go, Jónsi (2010)

Jika kalian menyukai suasana ambient, album Go dari Jónsi ini bisa menemani dari awal sampai akhir. Cocok untuk didengarkan saat bekerja karena dapat membuat bersemangat sekaligus tenang dan fokus. Lirik dari lagu-lagunya sendiri memang memotivasi (dan lumayan untuk belajar bahasa Islandia). Beberapa lagu dari album ini menjadi soundtrack film We Bought a Zoo.

  • Danger Days: The True Lives of the Fabulous Killjoys, My Chemical Romance (2010)

My Chemical Romance memang jagonya menyusun cerita dalam concept albums mereka, tidak terkecuali Danger Days ... ini. Berkisah tentang para Killjoys yang melawan sebuah perusahaan jahat di dystopian future California. Tiap lagu menggambarkan petualangan dan perjuangan para Killjoys untuk mencegah teror dan "kontaminasi" yang disebabkan perusahaan jahat tersebut. Gerard Way membuat komik khusus yang memaparkan kisah para Killjoys sebagai pelengkap album ini.

  • Riot on an Empty Street, Kings of Convenience (2004)

Bagi yang suka akustikan, aku merekomendasikan Kings of Convenience, terutama album ini. Riot on an Empty Street menyajikan cerita slice-of-life yang relatable dari lagu-lagunya. Ya, satu lagi album yang bisa didengarkan saat bekerja. Namun, aku tidak sepenuhnya menjamin kalian menjadi makin bersemangat, yang ada mungkin kalian malah menangis.

***

Selain Top 5 (tanpa urutan ordinal, hanya daftar) tadi pada post ini, aku bakal menambahkan 10 album lagi dengan deskripsi singkat.
  • We Don't Need to Whisper, Angels & Airwaves (2006)
Sebagai album pertama, We Don't Need to Whisper ini bisa dibilang prekuel dari I-Empire. We Don't Need to Whisper adalah petualangan yang memulai segalanya bagi Angels & Airwaves.
  • Death of a Bachelor, Panic! At the Disco (2016)
Death of a Bachelor merupakan usaha Brendon Urie mempertahankan grup musiknya dengan menjadi one man band. Meskipun sendirian, Brendon Urie berhasil membuat album ini layak dinikmati tanpa terputus-putus.
  • The Resistance, Muse (2009)
Penggemar cerita 1984 karangan George Orwell pasti akan menyukai album ini karena album ini disusun berdasarkan kisah tersebut. Tidak ada salahnya kalaupun ingin mendengar album ini secara santai. Dapat dipastikan bahwa Muse membuat album ini dengan sepenuh hati dan niat beserta inspirasi dari musik-musik klasik yang kental dalam The Resistance.
  • 35xxxv, ONE OK ROCK (2015)
ONE OK ROCK merupakan grup musik dari Jepang, tetapi mereka mulai dikenal lebih luas lagi dengan album ini. Terdapat dua edisi dari album ini, edisi standar dengan lagu-lagu berbahasa campur Inggris dan Jepang serta edisi mewah (deluxe) dengan lagu yang seluruhnya berbahasa Inggris yang ditargetkan untuk pendengar internasional. Keduanya menarik untuk didengarkan. (Kiri: Standar, Kanan: Deluxe)
  • Thick as Thieves, The Temper Trap (2016)
I dare say, this is Australian's finest indie band. The Temper Trap selalu punya cara unik dalam songwriting dan mengaransemen lagu mereka, terlebih pada album Thick as Thieves ini, dengan memanfaatkan materi yang tersedia. Tidak akan ada yang bisa disesali dari mendengarkan album ini selama sekitar 45 menit.
  • So Wrong, It's Right, All Time Low (2007)
Mendengarkan album ini seperti menjadikan pop punk American dreams nyata. Pergi merantau atau menetap di kota, tetap akan ada masalah atau petualangan yang harus dihadapi.
  • On Your Side, A Rocket to the Moon (2009)
Kalau butuh lagu-lagu yang melatari ketika gagal dalam romansa, silakan putar dengan volume penuh keseluruhan album ini. (Hanya sekitar 38 menit, kok.)
  • Sempiternal, Bring Me the Horizon (2013)
This is Sempiternal! Album ini memiliki narasi yang solid di tiap lagunya ataupun sebagai kesatuan album yang utuh. Cocok untuk didengarkan ketika nge-gym dari pemanasan peregangan hingga pendinginan.
  • AM, Arctic Monkeys (2013)
Nama albumnya sendiri bisa berarti banyak hal. 1) AM adalah singkatan dari Arctic Monkeys, 2) AM diambil dari amplitudo modulation (modulasi amplitudo) pada gelombang (radio), yaitu teknik mengubah amplitudo gelombang tanpa mengubah frekuensinya, makanya kover albumnya adalah gambar gelombang AM (dengan tepat di bagian tengah gelombang ada bentukan seperti huruf A dan M), dan 3) AM dapat berarti ante meridiem atau after midnight karena lagu-lagu pada albumnya memang menggambarkan kehidupan dari tengah malam hingga dini hari menjelang pagi. Begitulah dengan cerita yang ada pada AM dari awal hingga akhir yang Arctic Monkeys sajikan secara kreatif tetapi simpel. Meskipun bukan space rock, mendengarkan AM membawa kita mengangkasa. Ingin bersemangat? Dengarkan AM. Sedang lelah dan mau istirahat? Dengarkan AM juga.
  • Some Nights, fun. (2012)
Album yang sangat dikenal pada tahun 2010-an. Bahkan album ini mengubah persepsi para personel fun. yang tadinya tidak ingin menjadikan album ini sebuah concept album hanya dalam 'beberapa malam' saja.
 
***
 
Seperti pada post yang sebelumnya, aku tekankan bahwa rekomendasiku ini unreliable karena aku bukan ahli dalam mengulas sesuatu, aku sangat subjektif. Jika kalian punya album kesayangan kalian yang kalian suka dengarkan dari awal hingga akhir, boleh saja berbagi. Tentu aku juga mengharapkan segala masukan dari kalian. Buh-bye!
(Sudah, biarkan saja dia!)
(Kalau mau coba, bisa di billclintonswag.com.)

***

Oke, aku tambahkan 5 album lagi karena aku tidak tahan kalau meninggalkan kelima ini. Silakan dengarkan jika tertarik. Berikut kelima album tambahannya:
  • Blink-182 (untitled), Blink-182 (2003)
  • Under the Iron Sea, Keane (2006)
  • Only by the Night, Kings of Leon (2008)
  • American Beauty/American Psycho, Fall Out Boy (2015)
  • That's the Spirit, Bring Me the Horizon (2015)
 

Minggu, 07 Agustus 2022

Pesan Untukmu

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tahukah kamu mengapa suatu pesan selalu diawali dengan salam?

Kata 'selamat' di bahasa Indonesia diturunkan dari kata 'salam' dalam bahasa Arab. Mengucapkan salam berarti mengharapkan keselamatan untuk orang yang mana pesan tersebut ditujukan. Keselamatan itu penting, lho, di dunia yang mengandung banyak mara bahaya ini. Tanpa keselamatan, bagaimana pesan itu bisa sampai? Tanpa keselamatan, bagaimana kamu akan membaca tulisanku ini?

Ya, aku mengharapkan keselamatan bagimu. Dan, ya, aku punya pesan untukmu. Dalam bahasa Indonesia (meski bahasa Inggris adalah bahasa dunia secara global). "Mengapa?" Karena aku orang Indonesia dan bahasa Indonesia adalah bahasa ibuku. Omong-omong soal ibu, aku jadi ingin tahu kabar ibumu, lalu ayahmu, lalu keseluruhan keluarga dan teman-temanmu, tetapi mari kita simpan itu untuk lain waktu. (Toh, aku mengharapkan keselamatan untuk mereka juga.)

Oke, sudah basa-basinya. Ada hal yang mau aku tanyakan. Menurutmu, apa yang membuat manusia melanjutkan hidup? Apakah cita-cita? Apakah mimpi? Banyak motivator yang bilang kalau mimpi adalah bahan bakar seseorang melakukan sebuah pekerjaan, menebarkan manfaat, dan mendapatkan kekayaan. Kalau begitu, apakah mimpi sudah terlalu diglorifikasi? Dan setelah suatu mimpi terwujud, apakah kita berhenti bermimpi? Atau ada mimpi baru? Mimpi yang lain?

Apakah itu adalah orang yang tersayang? Kalau orang yang tersayang itu tiada, apakah kamu akan tiada juga? Apakah kamu akan berhenti melanjutkan hidup? Apakah kamu akan merasa sendirian? Merasa kesepian? Merasa tidak punya siapa-siapa lagi? Manusia-manusia sebenarnya saling membutuhkan, bukan?

Aku baru saja mendengarkan dua lagu Indonesia, Apatis dan Separuh Aku. Dunia penuh ke-random-an berupa, katakanlah, jurang-jurang bahaya berkeliaran dan padang rumput hijau yang bahkan tidak terhampar seperti di lagu Apatis. Akan tetapi, di sinilah kita, masih hidup hingga saat ini. Mau bagaimana pun, kita harus melewatinya. Agar kita bisa melewatinya, ada satu orang yang wajib kita rangkul: diri kita sendiri. Diri kita memiliki kecenderungan untuk mencari apa pun yang mampu membuat kita merasa lengkap seolah-olah melengkapi separuh dirinya. Bisa jadi cinta, bisa jadi cita-cita. Jika diri ingin merasa lengkap, kita wajib mengenal diri sendiri sehingga kita tidak seperti orang yang sudah dibelah separuh, kehilangan setengah bahkan hingga keseluruhan esensi. Meskipun tampak demikian, dengan mengenal diri, kita tidak akan pernah sendirian. Cukup dengan membuka mata, menghadapi dan menantang dunia, merefleksikan kesalahan kita, dan belajar berwibawa. Selanjutnya, terserah bagaimana kita berjuang mewujudkan mimpi selama itu membuat kita, para manusia, berkembang dan menjadi makin baik.

Tidak apa-apa jika kamu tidak punya mimpi.

Dan jika kamu punya mimpi dan tidak mau memberitahuku atau siapa pun, itu pun tidak apa-apa—asalkan kamu menuliskannya di suatu tempat untukmu sendiri. Menulis ekuivalensinya mengukir doa.

Mungkinkah melengkapi diri sudah merupakan sebuah mimpi itu sendiri, yang menjadi bahan bakar, yang membuat kita bersemangat hidup? Aku menawarkan pertanyaan atau pernyataan ini untuk kita pikirkan.

Kehidupan ini sesungguhnya indah. Aku senang kamu hidup saat ini, di kehidupan ini. Tidak perlu bermimpi terlalu tinggi, tidak perlu keras-keras berusaha. Hanya hidup. Aku merasa senang bahwa kamu membaca tulisanku sampai sini saat ini juga.

Aku tidak mengharuskanmu melakukan atau memfavoritkan sesuatu di atas hal lainnya. Kehidupan adalah belajar tentang keseimbangan. Hal-hal yang berlawanan dan sangat berbeda ternyata saling melengkapi dan saling membutuhkan. Bisa jadi, satu tiada, semua pun tiada. Ada yin, ada yang. Ada cahaya, ada bayangan. Ada terang dan gelap. Besar dan kecil. Cepat dan lambat. Teratur dan kacau. Panjang dan pendek. Dan masih banyak lagi. Menyeimbangkan aspek-aspek berlawanan, terutama dalam diri, bisa membantu untuk mengenal diri sendiri. Kamu akan menyayangi kelebihan dan kekuranganmu, kekuatan dan kelemahanmu, menerima dirimu sendiri karena dirimu adalah hal esensial yang kamu punya untuk melanjutkan hidup.

Sekarang, mungkin kamu bertanya-tanya "Siapa kamu?" Siapa sebenarnya diriku ini? Siapa aku yang secara semena-mena kini sedang mendoakan dan menyemangatimu? Itu, aku sendiri masih ingin mencari jawabannya. Namun, aku yakin aku akan menemukannya. Kalau kamu juga sedang mencari tahu, aku yakin kita sudah setengah jalan. Kita pasti bisa. Trust me! Percayalah!

Kita temukan diri kita masing-masing sebelum kita saling menemukan satu sama lain. Oke?

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga kamu selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa.

Kamis, 30 Juni 2022

Taman Bunga Misterius

Saat ini, aku sedang berada di Jombang, Jawa Timur, rumah keluarga besarku dari sisi ibu. Rumah keluarga besarku ini terletak di blok yang tidak terlalu besar dengan neighbourhood yang tidak terlalu banyak juga. Nah, ada satu rumah yang cukup dekat dari rumah keluarga besarku ini yang dari depan tidak terlalu kelihatan besar, tetapi ke belakangnya luas. Di pelatarannya ditanami bunga-bunga kembang kertas Zinnia dan bunga matahari. Sebagai penyuka bunga matahari, aku selalu mengagumi bunga-bunga matahari yang ditanam di halaman depannya, yang dekat dengan pagar rumahnya. Satu hal lagi yang kuketahui adalah rumah itu dihuni seorang pria yang sering merawat tamannya sambil bertelanjang dada.

Suatu ketika, aku baru saja berjalan balik ke rumah dari jalan-jalan sore di sekitar perumahan keluarga besarku. Tidak lupa aku mengamati bunga-bunga matahari itu sambil jalan. Tiba-tiba, ada seorang ibu tetangga yang rumahnya tepat di sebelah rumah keluarga besarku terlihat memanggilku agar mendekat. Aku mendekati si ibu yang berdiri di depan rumahnya. Beliau mengatakan sesuatu kepadaku dalam bahasa Jawa. Aku tidak begitu ingat lengkapnya dan aku tidak sepenuhnya jago bahasa Jawa. Namun, aku coba transliterasikan sebisaku, begini katanya:

"Pria yang tinggal di [rumah kecil dengan taman bunga itu] tampaknya gila. Dia pernah membawa kresek-kresek besar berisi kresek-kresek lagi. Anak-anak kecil yang mendekati rumahnya sering disahutinya (maaf, di kalimat ini, aku tidak yakin apa yang dimaksud si ibu untuk diterjemahkan). Ya sudah, setelahnya, aku tidak berani menyapanya lagi."

Aku mendengarkan kata-katanya lalu aku izin pamit dan meninggalkan si ibu. Di rumah keluargaku, aku memikirkan yang kualami tadi. Hal pertama yang terlintas di benakku adalah "Kalau pria itu memang gila, mengapa tamannya cukup terawat?" Jangankan tamannya yang terawat, sekadar tamannya ada saja sudah cukup aneh. Aku mengerti satu-dua hal mengenai berkebun dan aku mengamati bahwa tanah tempat bunga-bunganya tumbuh bukanlah tanah yang subur dan gembur (bukan tanah, pasir malahan!). Menanam bunga di media tanam seperti itu pasti butuh kerja keras agar dapat tumbuh dan mekar berbunga. Yah, aku tidak tahu, sih, apakah bunganya hasil stek batang atau dari biji, tetapi bunganya cukup sehat sehingga bunga yang kuncup mekar dan yang kecil membesar. Terakhir kulihat, pria itu juga masih sedang merawat tamannya.

Aku tidak tahu soal kresek-kreseknya, tetapi aku juga menyimpan kresek-kresek dalam kresek. Sekilas aku teringat meme plastic bag-ception yang pernah kulihat di 9gag (dasar otaknya penuh meme!). Mungkin kreseknya untuk persediaan?

Kalau tentang anak-anak, aku rasa, pria itu tidak ingin tanamannya diganggu oleh anak-anak. Secara, anak-anak masih sangat aktif dan belum terlalu terkontrol. Sementara aku, yang sudah 20 tahunan hanya memandangi untuk mengagumi tanpa merusak ataupun menyentuh bunganya. Jadi, aku aman-aman saja, bunganya pun aman.

Mengenai bertelanjang dada, yah, mungkin memang begitu nyamannya. Toh, itu masih aman kalau dilihat dari sisi aurat laki-laki. Perawakannya agak seram, jadi wajar kalau ada rasa takut. Akan tetapi, sejauh ini, aku belum pernah diganggu pula olehnya.

Satu lagi yang membuatku terkejut, ternyata memang masih ada saja budaya "bisik-bisik tetangga" yang sangat kentara. Mungkin karena aku tinggal di kompleks yang orang-orangnya cukup ramah dan jarang menghakimi selama ini. Mungkin pria itu memang bukan orang yang ramah dan kalau kita memilih untuk tidak menyapanya juga bukan masalah. Dariku sendiri, aku mengapresiasi taman bunganya yang indah dan kemampuan pria itu merawat tamannya meskipun hampir-hampir tidak akan berinteraksi langsung.

Kesimpulanku, jika intuisi kita meminta kita untuk jangan langsung percaya sesuatu, coba ikuti dulu saja. Setelah itu, kita ber-tabayyun, mencari tahu lebih lanjut. Bahkan di bidang hukum ada yang namanya "praduga tak bersalah". Bukankah kita dianjurkan untuk berprasangka baik terlebih dahulu?

Yah, semoga saja taman dan bunga-bunganya tetap terawat hingga aku kembali lagi ke rumah keluarga besarku. Kalau tetap terawat, dugaanku mengenai pria itu belum tentu gila bisa jadi benar. Mungkin bukan gila, melainkan lebih ke eksentrik, ya.

Cukup sekian dariku.

Sabtu, 04 Juni 2022

Ode untuk Seorang Putra

Leaves from the vine
Falling so slow
Like fragile tiny shells
Drifting in the foam
Little soldier boy
Come marching home
Brave soldier boy
Comes marching home

Terlepas dari konflik di beberapa titik, kita hidup di masa yang relatif stabil, tidak dalam keadaan berperang. Namun, apakah kita akan bisa terhindar dari yang namanya kehilangan? Tidak, tidak ada yang abadi. Mortalitas akan menjemput kita; setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Orang-orang yang dekat dengan kita akan menjauh dan meninggalkan kita.

Aku membuka tulisan ini dengan lirik lagu Leaves from the Vine yang ada di kartun Avatar: The Last Airbender untuk menggambarkan kesedihan orang tua yang kehilangan anaknya, baik saat perang maupun saat damai. Pasti kita pernah dengar kalimat yang mirip-mirip sebagai berikut: "Istri yang ditinggalkan suaminya disebut janda. Suami yang ditinggalkan istrinya disebut duda. Anak yang ditinggalkan orang tuanya disebut yatim dan/atau piatu. Namun, tidak ada sebutan untuk orang tua yang ditinggalkan anaknya karena rasanya sulit dideskripsikan." Ya, karena sesedih itu. Dalam konteks peperangan, aku mengambil kata-kata Heredotus:

In peace, children bury their parents. In war, parents bury their children (because war violates the order of nature).
Bagi orang tua, anak adalah anugerah dari Tuhan. Pembawa rezeki, berkah, apa pun itu. Sayangnya, anugerah itu hanya titipan yang bersifat sementara. Anak akan tumbuh dewasa, memiliki kehendaknya sendiri, dan menjadi manusia seutuhnya. Selain itu, sebagai manusia yang hidup, ada akhir dari kehidupannya. Kembali ke konteks peperangan, ada saat di mana seorang anak mengikuti wajib militer dan mendaftar menjadi tentara dengan risiko nyawa yang amat tinggi. Kalau pun kondisinya damai, terdapat penyakit yang mampu menjangkiti orang-orang yang masih muda atau insiden-insiden tak terduga yang dapat menimpa seorang anak. Dengan begitu, anak bisa meninggalkan orang tuanya lebih dahulu.

Satu hal yang pasti: mereka tidak meninggal secara sia-sia.

Mereka yang berjuang membela negaranya. Mereka yang melakukan perjalanan demi kebaikan. Mereka yang beribadah. Jika mereka kembali ke Yang Maha Berkuasa dalam keadaan yang baik, mereka akan diberikan tempat yang baik pula di akhirat. Bahkan mereka dinyatakan syahid dalam hadis riwayat Abu Daud (nomor 3111) ini:

Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ‘azza wa jalla itu ada tujuh orang, yaitu korban wabah adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan (dalam keadaan nifas atau dalam keadaan bayi masih dalam perutnya) adalah syahid.

Untuk yang merasakan kehilangan, Tuhan pun sudah menjanjikan pengampunan dan ketenangan hati. Setiap kali kehilangan, akan ada sesuatu yang bisa menggantikan hal yang hilang itu, entah materi fisik atau hal abstrak seperti ide, kesehatan, atau sekadar hari-hari baru untuk dijalani. Tentu siapa pun yang menerima hal baru tersebut harus sudah ikhlas terlebih dahulu, bahwasannya Tuhan menyayangi hamba-Nya yang Dia ambil lebih daripada yang merasa kehilangan, kita manusia terbatas.

*

Saat ini, aku merasa seperti kehilangan seorang adik. I feel like I just lost a younger brother. Meskipun tidak sedarah, ada sesuatu yang lenyap dari diriku seolah benar-benar aku yang ditinggalkan. Mungkin karena ia merupakan bagian keluarga dari pemimpin daerah tempat aku tinggal, yang mengeklaim sebagai orang yang menyebarkan kebahagiaan pada tulisan bio media sosialnya (dan memang benar adanya beliau sosok yang seperti itu), sehingga beritanya begitu viral. Akan tetapi, kita semua yang manusia, kita mengetahui bahwa penyebar kebahagiaan pun bisa dan tengah berduka, dan kita turut memiliki perasaan kehilangan dan ditinggalkan itu. Beliau kehilangan putranya yang merupakan adik tingkat satu tahun di bawahku. Coba bayangkan kalau itu adalah anggota keluarga kita. Berapa kali lipat kesedihan kita? Pihak keluarga telah mengikhlaskan dan sudah ada imbauan melakukan salat ghaib, yang di situlah puncak kesedihanku beberapa hari ini. Sang putra tidak akan kembali.

Sayang sekali aku dan sang putra belum kenal dekat dan berinteraksi. (Waktu zaman diklat divisi keamanan OSKM ITB 2018, aku menghabiskannya di osjur himpunan di Jatinangor.) Sebagai orang yang senang mengobrol, aku rasa, mungkin di lain waktu dan kehidupan, ada suatu kesempatan agar kita berbincang.

Aku nyatakan tulisan ini sebagai "ode" karena meskipun berakhir penuh dengan laranya hati, sang putra tetap menang terhadap dunia ini. Aku perhatikan, banyak sekali yang merasa kehilangan sehingga aku meyakini sang putra memang orang baik yang telah memenangkan hati banyak orang. Kini, kita hanya bisa berdoa supaya ia juga menang di alam lain sana.

Semoga ia beristirahat dengan tenang dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya serta orang-orang yang ditinggalkannya diberikan ketabahan.

Termasuk diriku.

Senin, 30 Mei 2022

Tentang Penggemar

Pernah enggak terpikir kalau kita punya penggemar rahasia? Siapa? Apakah itu orang yang tak dikenal atau justru teman terdekat kita? Ada berapa? Mengapa mereka bisa menggemari kita? Kok bisa gitu, lho.

Baru-baru ini, aku dibuat penasaran dengan keberadaan penggemar rahasia. Ada orang yang menyukaiku, tetapi mereka tidak mengatakannya secara langsung kepadaku, atau mereka sama sekali tidak mengatakannya. Entah mengapa. Mungkin mereka malu atau takut (apakah aku menyeramkan/mengintimidasi?) atau merasa bahwa hal itu tidak diperlukan atau tidak penting (lah kok?). Kalau begitu, sudah berapa lelaki yang aku buat memendam perasaannya? Mungkin aku yang tidak peka, bodohnya aku. Oke, waktunya kembali belajar agar jadi pintar. Memang agak sulit merasakan menjadi orang lain, tapi setidaknya, aku belajar berempati dan menurutku, memang ada banyak manfaat dari berempati serta pembelajaran tentang empatinya. Aku mampu merasakan apa yang teman-temanku dan orang lain rasakan; dari situ, aku juga mampu belajar.

Aku tahu beberapa kelebihan dan kekuranganku. Bisa jadi, ada beberapa dari itu yang membuat orang lain suka kepadaku. Banyak teori yang bilang, semakin percaya diri seseorang, semakin banyak juga yang akan menyukai orang tersebut. Kepercayaan diri menyangkut rasa nyaman seseorang dengan dirinya sendiri setelah mengetahui potensi-potensi dirinya, kelemahan dan kekuatannya (sambil coba bikin SWOT). Apakah aku nyaman dengan diriku sendiri? Tidak juga. Yah, kadang-kadang. Ada saat di mana aku tidak merasa percaya diri. Namun, aku bersyukur jadi diriku dan mencoba untuk menyukai diriku sendiri. Soalnya, cuma aku dan Tuhan yang tahu apa yang bisa dikembangkan dari diriku. Tapi, tentu aku punya titik buta yang bisa saja dapat dilihat orang lain. Jadi, kalau ada yang mau kalian lakukan dan sampaikan untukku, beri tahu saja! Mungkin itu berkaitan dengan titik butaku. (Kalau tidak bisa langsung, bisa lewat tautan bit.ly/KronikBuatAisy atau Secreto secreto.site/19195298 ini.)

I may sound cocky writing this, but this is just my honest thought. Dan terima kasih sudah membaca sampai sini hhe. Sudah. Itu saja.

Jumat, 13 Mei 2022

Catatan Iseng: 15 Album Lagu Barat untuk Didengar dari Saat Mulai sampai Selesai!

Sepanjang karier mereka, para pemusik pasti pernah membuat album yang mengumpulkan sejumlah lagu rekaman yang bisa didengarkan oleh penikmatnya dalam satu kompilasi. Lagu-lagu dalam satu album bisa dinikmati satu per satu secara terpisah dengan lagu-lagu lainnya. Namun, terkadang, para pemusik membuat album yang lagu-lagunya perlu didengarkan secara keseluruhan dan saling berkesinambungan karena sealbum itu menceritakan sesuatu. Nah, buat kita-kita yang suka binge-listening album, di sini terdapat beberapa rekomendasi (unreliable) album untuk binge-listening dari awal hingga akhir. Oh ya, karena aku pribadi adalah penggemar lagu rok, kebanyakan yang aku rekomendasikan adalah album musik rok dari pemusik barat. Berikut adalah album-albumnya.

  • I-Empire, Angels & Airwaves (2007)

Tom DeLonge, pentolan grup punk Blink-182, memperlihatkan character development-nya di grup sampingannya ini. Kerapian dan fleksibilitasnya bermusik makin terpatri dalam album kedua Angels & Airwaves, I-Empire. Dimulai dari "Call to Arms" yang hauntingly mengajak berpetualang hingga "Heaven" di mana akhirnya kita menemukan tempat yang kita tuju. "Here I am~!" Sebelumnya, beliau di Blink-182 sering bertanya-tanya "Where are you~?". Aku ucapkan selamat menikmati sisi space rock dari Tom DeLonge dengan album ini!

  • The Black Parade, My Chemical Romance (2006)

Kematian seperti sebuah koin dengan dua sisinya. Tentu menyedihkan berpisah dengan dunia dan orang-orang yang kita cintai, tetapi memori dan legasi yang kita buat akan bertahan, terutama jika itu yang membahagiakan. My Chemical Romance membantu kita menelusuri kedua perspektif itu dari kematian. Satu perspektif bisa jadi sangat berbeda dengan perspektif lainnya, tetapi mereka tetap berada di suatu koin yang sama. The Black Parade dapat menjadi bahan perenungan kita dalam kurang lebih 52 menit selama hidup karena kematian merupakan kepastian untuk makhluk yang bernyawa. Nah, meskipun terkesan berat, lagu-lagu di album ini diaransemen secara apik sehingga enak didengarkan tetapi "mendaging". Jadi, sebisa mungkin tetap bertahan hidup, ya, agar tetap bisa menikmati album ini lebih lama selama masih diberi kesempatan. ^_^

  • Viva La Vida or Death and All His Friends, Coldplay (2008)

Masih tentang hidup dan mati, sekarang kita lebih terfokus dalam topik perang (dan kedamaian). Coldplay mengeksplorasi tema universal untuk membuat sesuatu yang sangat artistik. Hasilnya? Viva La Vida ... menjadi karya eksperimental yang sukses besar. Benar saja, lagunya enak-enak dan menjadi hits ketika dijadikan single. Coldplay juga menyimpan "harta karun" dalam album ini, yakni beberapa lagu tersembunyi yang dibuat seamless dalam lagu induknya. Salah satu pasangan lagu yang dibuat seamless dalam album ini adalah "Viva La Vida" dan "Violet Hill", tetapi tidak dijadikan satu lagu. Masih banyak hal lagi yang bisa dieksplorasi dari album Viva La Vida ... ini. Jangan segan-segan mendengarkan lagu ini tanpa terputus. :)))

  • American Idiot, Green Day (2004)

Who wants to be an American idiot? No one! Green Day mengutarakan pandangan mereka mengenai negara mereka, Amerika Serikat, melalui album ketujuh mereka ini. Hampir mirip seperti Viva La Vida ... sebenarnya, ada beberapa pasang lagu dalam American Idiot yang dibuat seamless (bisa dijadikan satu lagu atau dua lagu yang berbeda), di antaranya yaitu "Holiday" dan "Boulevard of Broken Dreams", "Are We the Waiting" dan "St. Jimmy", "Give Me Novacaine" dan "She's a Rebel", serta "Extraordinary Girl" dan "Letterbomb". Sebelumnya, Green Day sudah pernah menyambung antarlagu juga.) Karena album ini memiliki progres cerita yang apik dan epic, American Idiot diadaptasi menjadi pertunjukan Broadway (apakah akan menjadi film juga?).

  • Overexposed, Maroon 5 (2012)

Jatuh cinta membuat kita menjadi rentan—vulnerable—sehingga membuat kita merasa overexposed. Apakah salah? Belum tentu. Orang yang tepat yang benar-benar menyayangi kita akan ingin mengenal kita lebih dalam. Sometimes, it's okay to wear your heart on your sleeves, as long as we'll learn some lessons. Kemungkinan untuk tersakiti memang ada, tetapi yang terpenting adalah kemauan untuk bangkit (sehingga belajar untuk tidak tersakiti lagi, hehehe). Kemudian, Maroon 5 mengajarkan bahwa, baik ketika kita mendapatkan apa/siapa yang kita inginkan maupun jika kita tidak mendapatkannya, kita harus ikhlas merelakan bila hal itu terambil atau pergi dari kita. Oh, aku yakin banyak sekali orang yang mengetahui Maroon 5, jadi aku yakin juga seberapa easy listening album pop ini untuk didengarkan secara penuh.
 
***

5 di atas tadi adalah Top 5-ku yang kuulas (tanpa urutan ordinal, hanya daftar). Sekarang, akan aku tambahkan 10 lagi dengan deskripsi singkat.
  • 21st Century Breakdown, Green Day (2009)

Sering disebut sebagai sekuel American Idiot karena kemiripan tema. (Lebih bagus atau tidaknya bergantung pendapat subjektif masing-masing individu.)

  • Black Holes and Revelations, Muse (2006)
Pada Black Holes and Revelations, Muse membuat space rock mudah diterima oleh banyak orang. Salah satu lagu paling dikenal dari album ini adalah Starlight. Album ini worth to listen, terutama jika kalian menyukai ilmu pengetahuan, seni, dan isu-isu hangat secara bersamaan.
  • Dark Before Dawn, Breaking Benjamin (2015)
Breaking Benjamin adalah grup musik hard rock yang sering mengangkat tema-tema soft. Dark Before Dawn menggambarkan harapan dan cinta dari menit 0 sampai menit 42—43.
  • Drones, Muse (2015)
Drones bercerita tentang perang drone dan seseorang yang menjadi tentara dalam perang tersebut.
  • Everyday Robots, Damon Albarn (2014)
Everyday Robots adalah album solo kedua Damon Albarn, vokalis Blur. Aku cukup menyukai unsur eksperimental dalam album ini, seperti lo-fi.
  • Human, Three Days Grace (2015)
Jika penggemar berat Three Days Grace ingin memberi kesempatan kepada Matt Walst, vokalis baru Three Days Grace setelah keluarnya Adam Gontier, mereka harus mendengar album ini dari awal sampai akhir.
  • Lifeforms, Angels & Airwaves (2021)
Di tengah pergulatannya, Tom DeLonge berusaha memasukkan unsur punk yang menaikkan namanya ke usaha mainstream alternatifnya. Well, tidak sia-sia karena masih terdengar rapi dan fleksibel.
  • OK Computer, Radiohead (1997)
Album yang sangat maju di masanya, berkisah tentang drawbacks dari teknologi (tidakkah kita merasakannya sekarang?).
  • Three Cheers for Sweet Revenge, My Chemical Romance (2004)
Pesan moral: 1) Sayangilah ibumu dan ibunya ibumu. 2) Dilarang membunuh orang di luar saat perang.
  • We Sing. We Dance. We Steal Things., Jason Mraz (2008)
Menurutku, Jason Mraz memang piawai dalam membuat lagu-lagu calming and reassuring. We Sing. We Dance. We Steal Things. adalah buktinya. Album ini juga album tersukses Jason Mraz.

***

Omong-omong, di awal, kupikir aku bilang kalau rekomendasi ini unreliable karena aku bukan ahli dalam mengulas sesuatu, aku sangat subjektif. Akan tetapi, bagaimana menurut kalian? Apakah kalian tertarik mendengarkan album-album di atas tadi? Jika kalian punya album kesayangan kalian yang kalian suka dengarkan dari awal hingga akhir, boleh saja berbagi.

Aku berharap membuat follow up catatan ini, jadi belum cukup sampai di sini saja.

Jumat, 01 April 2022

Semesta dan Kodenya

Tulisan ini mungkin adalah tulisan paling "bucin" yang pernah kutulis.
 
Aku membaca dua tulisan yang dibuat oleh dua orang yang berbeda, tetapi inti dari tulisannya nyaris sama. Masing-masing tulisan dibuat di platform yang berbeda dan pada waktu yang berbeda pula. Yang menjadi kebetulan yang paling menarik ialah kedua orang tersebut merupakan dua orang pria yang sama-sama kukagumi. Aku memikirkan bagaimana bisa dua orang yang berbeda memikirkan hal yang serupa. Mungkin mereka pernah merasakan nasib yang mirip, sedang menapaki jalan yang serupa, atau memiliki prinsip yang sama, jadi secara langsung atau tidak langsung, mereka berhubungan. Entah mengapa, pasti ada alasannya. Akan tetapi, bukan itu yang mau aku bahas.
 
Mereka membicarakan tentang simbol atau tanda dan makna yang mengisyaratkan sebuah probabilitas. Lalu, muncullah pertanyaan. Apakah simbol atau tanda dibuat terlebih dahulu baru diberikan maknanya atau simbol/tanda dibuat bersamaan dengan maknanya? Karena aku bukan ahli semiologi, aku pun penasaran. Memangnya, mana yang duluan? Atau apakah itu penting? Masalahnya, banyak hal di sekitar kita yang bisa menjadi simbol atau tanda. Sebut saja lebah atau tawon yang berwarna kuning-hitam. Warna kuning dan hitam pada lebah atau tawon seolah menyerukan "Aku berbahaya! Jangan dekat-dekat aku!" karena mereka memiliki sengat di pantat mereka yang dapat menyakiti siapa pun. Ada juga jajaran bintang di langit yang seringkali dijadikan petunjuk bagi orang-orang di bumi ke mana arah yang dapat mengantar ke tempat mereka hendak pergi atau kapan mereka akan bertani.
 
Pernah terdapat perdebatan di kalangan pakar bahasa dan sastra Indonesia. Ada yang bilang bahwa kata-kata itu netral yang selanjutnya manusia menafsirkan kata-kata itu sehingga kata-kata memiliki maknanya sendiri yang dapat memihak secara subjektif. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata-kata itu tidak netral dan tidak lahir dari kehampaan, pasti ada latar belakang sosial, budaya, politik, ideologi, dan bahkan ekonomi, yang dipakai manusia untuk hal-hal yang sama sekali tidak netral juga. Saat ini, tidak penting aku lebih setuju argumen yang mana. Yang pasti, di sini ditunjukkan bahwa kata-kata yang kita tulis dan baca di mana-mana pun mengandung simbol atau tanda yang pasti mengandung makna. Makanya, ada yang namanya makna denotatif (tersurat) dan makna konotatif (tersirat). Maknanya pasti ada di tiap rangkaian huruf, frasa, dan kemudian kalimat, entah terpampang jelas atau tersembunyi, langsung atau tidak langsung.
 
Semesta kita penuh misteri dan kode-kodenya yang semua itu meminta untuk dipecahkan dan dipahami, seperti benang kusut yang harus diurai agar lurus kembali. Kita ditantang untuk mengurai semua itu tanpa menghancurkan seluruh materi yang telah ada, seperti menggunting benangnya. Benangnya bisa jadi lurus lagi, tetapi menjadi tidak utuh karena terpotong. Di sinilah kita belajar untuk tidak mengartikan sesuatu di luar hakikatnya. Bintang-bintang di langit, yang merupakan massa berupa sebagian besar hidrogen dan helium, bisa menunjukkan arah tempat dan waktu dalam setahun, tetapi ia tidak bisa meramalkan masa depan, bagaimana nasib hidup dan siapa jodoh seseorang. (Inilah mengapa kita tidak bisa percaya ramalan bintang alias horoskop: karena itu tidak masuk akal.) Sudah ada ilmu pasti yang membuktikan bahwa bintang-bintang bisa menunjukkan arah dan waktu, kita tinggal menginterpretasikannya, bila perlu dengan perhitungan dan statistika. Tuhan menciptakan semesta juga beserta maknanya bagi manusia. Tuhan ingin manusia belajar dan mengerti. Intinya, hidup kita penuh dengan tanda-tanda yang perlu kita cari maknanya, baik secara kumulatif maupun secara insidental.
 
Ya, segala sesuatu pasti ada maknanya. Termasuk tulisan yang kubuat ini. Apakah makna dari aku membuat tulisan ini adalah untuk menjawab rasa penasaranku lalu aku mencoba menjelaskannya? Apakah maknanya untuk memikat pria-pria yang kusuka? Tenang saja, aku punya interpretasiku sendiri. Interpretasiku mungkin berbeda dengan interpretasi kalian. Jujur, aku tidak suka kalau semua hal dibuat 100% pasti, aku lebih suka menemukan kemungkinan di mana aku bisa bermain dengan situasi agar mencapai tujuan yang kumaksud.
 
Yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Tidak ada yang sempurna, tetapi selalu ada alternatif yang lebih baik. Ketidaksempurnaan yang pada akhirnya mengarah ke keteraturan. Bukankah semesta begitu?

Selasa, 18 Januari 2022

Jejak Senjakala

Sudah nyaris seumur hidup aku mencari jawaban dari Apa itu pemimpin?”, “Apa arti kepemimpinan?”, dan untuk beberapa saat, aku sering melihatnya ada pada dirimu. Dahulu, aku melihatmu sebagai seorang pemimpin, pemandu, mentor, serta sumber ilmu untuk belajar memimpin dan mencinta. Sampai-sampai aku berpikir kalau aku mulai merasakan cinta. Cinta yang membuat bertanya-tanya “Apakah aku mencintaimu? Ataukah aku mencintai kepemimpinan?”.

Mungkin kamu dan orang-orang itu, orang-orang yang katanya mencintaimu dan kaucintai, bilang bahwa kalian lebih menyukai matahari terbenam di saat senja. Ketahuilah, aku si anak kemarin sore, bocah ingusan yang selalu mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Aku malah ingin bilang kalau aku tidak terlalu menyukainya karena itu berarti tanda aku akan berpisah denganmu. Dan mungkin memang lebih baik begitu. Aku harus memisahkan diri darimu karena aku tidak mau terlalu bergantung kepadamu. Kebahagiaanku, kepintaranku, pekerjaanku, seharusnya semua itu tidak dipengaruhi olehmu.

Saat aku akhirnya berpisah denganmu—sebentar, kita mundur sedikit. Sebelum aku berpisah denganmu, aku selalu menyadari adanya beberapa persamaan di antara kita. Namun, aku bukan refleksimu. Kamu bukan milikku dan kamu bukan aku. Aku mungkin seorang pemimpin, begitu juga dirimu, tetapi aku harus tahu bahwa kita adalah pemimpin yang berbeda. Kita pun akan memimpin dengan cara yang berbeda. Hanya saja, lucu juga kalau mengingat aku berkali-kali meminta saran darimu, yang belum tentu cocok untukku, kusukai, dan bahkan kuturuti. Yah, itu tidak berarti aku menyesalinya. Bukankah kita diminta untuk melihat sesuatu dari banyak perspektif? Dengan begitu, kita bisa belajar berempati. Kini, biarkanlah aku melangkah dari bayang-bayangmu selagi bayanganmu di sore hari makin memanjang hingga ia tidak bisa meraihku lagi dan aku hilang di kegelapan. Aku butuh tidur sehingga hari esok mendatang bisa lebih baik sesuai intuisiku.

Aku hanya perlu menunggu lalu membuka jendela di pagi hari, melihat matahari terbit yang kusukai dan membuatku tersenyum.

Jumat, 10 September 2021

(Dibuat pada tanggal 2 September 2021)

"Prita, tolong bawa berkas yang kemarin ke kantor, ya. Saya mau koreksi dulu. Ditunggu sampai waktu jam makan siang."
 
Begitu kata suara bosku yang menelepon pukul 8 pagi tadi. Aku membelalakkan mata. Hah? Jadinya hari ini? Berkas yang dimaksud adalah berkas kontrak dengan seorang klien investor yang akan meneken kontraknya minggu depan (kami sudah janjian). Oh, iya, "kemarin" yang dimaksud adalah selumbari, Senin. Hari ini hari Rabu. Jadwalku masuk kantor adalah hari Senin dan Kamis, sisanya WFH. Senin lalu, bosku bilang untuk menyelesaikan dan bawa berkasnya waktu aku masuk lagi ke kantor, yaitu besok. Mengapa jadi harus hari ini?
 
Untunglah aku biasa bangun pagi dan sebenarnya, berkasnya sudah tinggal tahap koreksi sedikit-sedikit. Aku pun segera membuka laptopku dan mulai mengerjakan berkasnya. Aku hanya butuh sekitar 1 jam untuk menyelesaikannya. Setelah selesai, aku segera mandi dan berpakaian untuk ke kantor.
 
Pukul 9 pagi. Aku sebenarnya sudah sarapan, tetapi aku sangat mudah untuk merasa lapar lagi. Maka, aku selalu mampir ke kedai kopi untuk membeli sesuatu yang bisa dijadikan santapan brunch. Saat aku masuk, owh, yang sedang mengantre cukup banyak. Antrean yang berjarak pun menambah kesan "berjibun" dalam kedai kopi. Sekali lagi, untunglah orang-orang yang memesan tidak bisa mengonsumsi pesanannya di kedai, harus dibungkus, jadi kedai tidak perlu penuh sesak dan seharusnya itu mempercepat antrean berkurang.
 
Akhirnya, aku mendapatkan pesananku setelah 30 menit mengantre. Aku segera keluar kedai. Aku menyimpan pesananku, pai labu manis ukuran sedang dan kopi mochaccino di tempat tertentu di dashboard mobil. Aku menyalakan mobil dan kembali melaju.
 
Sampai akhirnya, di suatu titik menuju persimpangan jalan yang cukup besar, banyak kendaraan yang tidak bergerak di depanku. Macet. Aku terkejut melihat kemacetan ini. Lantas aku berhentikan mobilku. Ada seorang pedagang asongan lewat samping mobilku. "Ada apa ini?" tanyaku.
 
"Ada kecelakaan di perempatan gara-gara kabel lampu lalu lintasnya putus," jelas bapak pedagang asongan. "Lagi ditangani polisi dan petugas jalanan buat betulin lampu lalu lintas dan kondisi jalan."
 
Aku berterima kasih kepada bapak pedagang asongan dan menaikkan kaca jendela mobilku. Kecelakaan? Aku mengutak-atik aplikasi peta di gawaiku, tetapi seluruh alternatif jalan pun berwarna merah, menunjukkan penuhnya jalan tersebut. Aku menghela napas. Aku rasa, aku akan terjebak di sini hingga masalah kecelakaan teratasi. Jalan yang biasa aku lalui ini adalah jalur tercepat.
 
Tiiiin! Tiiiin!
 
Astaga! Aku rasa, aku tertidur sambil mengantukkan kepalaku di setir mobil hingga akhirnya klakson mobilku berbunyi. Aku melihat jam. Pukul 10.45. Waktu berlalu cepat sekali, ya, kalau ketiduran? Aku agak panik karena sebentar lagi pukul 11 dan aku belum sampai kantor. Untuk menenangkan diri, aku memakan seluruh paiku dan minum mochaccino yang kubeli tadi.
 
Tiiiin! Tiiiin!
 
Kali ini, suara klaksonnya dari mobil lain. Kendaraan sudah mulai berjalan lagi, pertanda masalah kecelakaannya sudah beres dan lalu lintas lancar lagi. Aku segera membersihkan kedua tanganku dan kembali menyetir (lagi-lagi, untunglah, aku sudah menyalakan mesin mobil agar panas kembali sembari makan). Aku membawa mobilku dengan agak mengebut ke kantorku supaya cepat sampai. Pukul 11.15, aku melesat masuk ke dalam gedung kantor, menaiki lift, dan berjalan cepat ke ruangan bosku.
 
Namun, nihil.
 
Aku mendekati meja kerja bosku. Bosku biasanya meletakkan laptopnya di atas meja, tetapi tidak ada apa-apa di mejanya. Tas laptopnya bahkan tidak terlihat di mana pun. Aku keluar ruangan bos diiringi tatapan bingung teman-teman karyawanku yang sedang masuk kantor. Mungkin mereka bingung mengapa aku ada di kantor hari ini. Aku pergi ke tempat resepsionis dan bertanya soal bosku.
 
"Pak Ardhi? Wah, saya tidak lihat. Para manajer yang masuk dan keluar harus absen di sini," kata mbak resepsionis sambil menunjuk mesin absen khusus para bos atau atasan lainnya yang ada di mejanya.
 
Aku kebingungan. Setelah mengucapkan terima kasih, aku mencari tempat untuk menelepon bosku. Akan tetapi, nomor yang kutuju selalu tidak dapat kuhubungi berkali-kali. Aku mencoba menghubungi lewat aplikasi chatting, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa pesanku dibaca. Akhirnya, aku pun pulang ke rumah setelah membeli frappuccino untuk menghibur diriku.
 
Keesokan harinya, aku datang pagi-pagi ke kantor. Aku menunggu bosku datang untuk memberitahukan semuanya. Bosku juga biasa datang pagi. Pak Ardhi cukup senang aku menyelesaikan tugasku dengan baik, tetapi beliau pun terheran-heran mendengar ceritaku.
 
"Menelepon kemarin pagi? Saya tidak menelepon Anda, Prita."
 
Aku, yang tidak percaya, mengambil gawaiku dan hendak menunjukkan history telepon kemarin ... tetapi tidak ada.
 
History telepon pukul 7 hari Rabu kemarin tidak ada, tidak tercatat. Akan tetapi, aku benar-benar yakin aku ditelepon oleh nomor Pak Ardhi kemarin. Aku pun mengecek Whatsapp karena aku ingat aku juga mengirim pesan kemarin. Ternyata, pesanku yang kukirim juga tidak ada, hilang begitu saja. Lagipula, kalau aku menghapus pesan Whatsapp yang telah kukirimkan, pasti masih ada balon katanya dengan keterangan tertentu, bukan?
 
Setelah aku menjelaskan semuanya, Pak Ardhi berkata, "Mungkin Anda sedang gelisah karena klien kita, investor yang bekerja sama dengan kita itu, adalah orang yang penting. Anda jadi ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Ya, saya lihat itu benar. Hasil kerja Anda juga sangat bagus. Tapi, ingat, Anda tidak boleh sampai stres saat kerja, terutama di masa pandemi ini. Selain itu, saya rasa, Anda harus mengurangi konsumsi kafein, Prita, supaya tidak kebingungan."
 
Pak Ardhi memang tahu kegemaranku meminum kopi. Pak Ardhi menerima hasil kerjaku untuk dikoreksi lebih lanjut dan memintaku untuk kembali ke tempat kerjaku. Aku berterima kasih kepada Pak Ardhi dan pamit undur diri. Di meja kerjaku, aku masih terheran-heran. Apa sebenarnya yang terjadi kemarin? Apakah aku salah?
 
Aku menggelengkan kepalaku. Kehidupanku harus tetap berlanjut. Yah, yang kemarin itu sudah berlalu. Sekalipun itu ternyata hanya mimpi. Meskipun begitu, selagi melanjutkan pekerjaanku, aku pun bertanya-tanya. Apakah yang kemarin itu hanya mimpi? Atau bukan?