Tampilkan postingan dengan label Apapun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apapun. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 November 2023

Poliamori (Bagian 6)

Aku pernah menulis definisi-definisi verba untuk membedakan perasaan yang kita punya untuk orang lain. Hanya saja, ini dalam bahasa Inggris. Ini aku tulis saat aku masih SMA pula, jadi beberapa kata-kata dalam bahasa Inggris-nya tampak berantakan, tetapi terlihat masih bisa masuk di akal juga buatku. So, here it is.

 

How to Distinguish Your Feelings to Others

Infatuation:
"Nobody is like him/her. He/she is irreplaceable. Let him/her feel the same as I do."

Having a crush:
"I want him/her to be happy, to be excited, safe, and healthy. He/she doesn't need to care. It's enough."

To fall in love:
"He/she impresses me. I like something from him/her. I wanna know what it is. I'll try more."

To like:
"I don't want to be cared yet I don't want to lose him/her. So, let him/her be mine, please!"

To love:
"I've got this admiration. I try to give my affection to him/her. What I do is for him/her."

Being in love:
"I love everyone (objectively). It's better to love them than to be loved by them. It's nice."


Begitulah (dulu) aku membedakannya. Sudah. Itu saja.

Kamis, 16 November 2023

Poliamori (Bagian 5)

Jadi, aku dulu pernah mengopi posting-an tentang bagaimana 16 kepribadian MBTI memandang cinta dari suatu web dan aku sudah lupa dengan dari mana aku mengopinya. Aku minta maaf karena aku tidak bisa menyebutkan sumbernya. Diriku waktu SMA belum mengerti soal mencantumkan referensi.

Aku memang punya love-hate relationship dengan 16 kepribadian MBTI (karena meskipun bisa digunakan untuk melihat gambaran awal seseorang, itu masih banyak rumpangnya). Tapi, di sini, aku mau meyakinkan sekali lagi kalau cinta itu tidak sempit. Cinta itu luas dan bisa banyak sekali definisinya. Cinta butuh semacam intersubjektivitas dan relatif terhadap tiap orang yang mengalaminya.

Beginilah pandangan tiap kepribadian MBTI terhadap cinta.

 

Filsuf Idealis: INFP (INTROVERTED-INTUITIVE-FEELING-PERCEIVING)

“Cinta adalah tempat paling sempurna : tenang, damai dan ramah.”

 

Penulis Mistis: INFJ (INTROVERTED-INTUITIVE-FEELING-JUDGING)

“Cinta berada dalam pikiran, hati dan jiwa saya.”

 

Filsuf Sosial: ENFP (EXTRAVERTED-INTUITIVE-FEELING-PERCEIVING)

“Cinta itu misterius, memberi inspirasi, dan menyenangkan.”

 

Guru Kedewasaan: ENFJ (EXTRAVERTED-INTUITIVE-FEELING-JUDGING)

“Cinta adalah disibukkan oleh kekasih tercinta.”

 

Sarjana: INTP (INTROVERTED-INTUITIVE-THINKING-PERCEIVING)

“Cinta hanyalah sebuah ide.”

 

Ahli: INTJ (INTROVERTED-INTUITIVE-THINKING-JUDGING)

“Cinta dapat dianalisis dan disempurnakan.”

 

Inovator: ENTP (EXTRAVERTED-INTUITIVE-THINKING-PERCEIVING)

“Saya menemukan cinta pertama kali dalam pikiran saya.”

 

Jenderal: ENTJ (EXTRAVERTED-INTUITIVE-THINKING-JUDGING)

“Cinta diperkaya oleh kekuatan, pengaruh, dan prestasi.”

 

Perawat: ISFJ (INTROVERTED-SENSING-FEELING-JUDGING)

“Cinta adalah sebuah tujuan yang patut memperoleh pengorbanan.”

 

Administrator: ISTJ (INTROVERTED-SENSING-THINKING-JUDGING)

“Cinta didasarkan pada tugas dan tanggung jawab.”

 

Tuan Rumah yang Baik: ESFJ (EXTRAVERTED-SENSING-FEELING-JUDGING)

“Cinta didasarkan pada melayani orang lain.”

 

Tradisionalis: ESTJ (EXTRAVERTED-SENSING-THINKING-JUDGING)

“Cinta berpijak kuat pada keluarga, tradisi, dan kesetiaan.”

 

Seniman Lembut: ISFP (INTROVERTED-SENSING-FEELING-PERCEIVING)

“Cinta adalah kelembutan, alami, dan pengabdian ”

 

Pengrajin: ISTP (INTROVERTED-SENSING-THINKING-PERCEIVING)

“Cinta adalah tindakan.”

 

Penampil: ESFP (EXTRAVERTED-SENSING-FEELING-PERCEIVING)

“Cinta adalah menikmati dan bersukaria dalam gairah kekinian.”

 

Jago Dagang: ESTP (EXTRAVERTED-SENSING-THINKING-PERCEIVING)

“Cinta harus menarik dan menggairahkan.”

 

Demikian pandangan tiap kepribadian MBTI terhadap cinta. Apakah sesuai dengan kepribadian kalian?

Sudah. Itu saja.

Senin, 18 September 2023

Pulang (Sebuah Pemikiran Tentang Persahabatan)

Apa yang pertama terpikirkan saat mendengar kata rumah?

Menurut penulis sendiri, pada dasarnya, rumah didefinisikan sebagai tempat bernaung. Dalam bahasa Inggris, rumah dibedakan menjadi house dan home. Tabel ini menunjukkan definisi dari house[1] dan home[2] menurut Oxford Dictionary.

House (n)

Home (n)

1.      building made for people to live in, usually for one family (bangunan yang dibuat untuk orang-orang tinggal di dalamnya, biasanya untuk satu keluarga)

2.      people living in a house (orang-orang yang tinggal di dalam sebuah rumah)

3.      building made for a purpose that is mentioned (bangunan yang dibuat untuk tujuan yang disebutkan pada namanya)

4.      ...

5.      ...

6.      ...

7.      ...

8.      (usually the House of ...) old and famous family (biasanya menunjukkan nama keluarga [marga] bersejarah dan terkenal)

1.      place where you live, especially with your family (tempat tinggal, terutama bersama keluarga)

2.      place for the care of old people or children (tempat untuk merawat orang-orang tua atau anak-anak)

3.      place where an animal or plant lives naturally (tempat suatu binatang atau tanaman hidup secara alami)

4.      place in which something was first discovered, made or invented (tempat sesuatu pertama kali ditemukan, dibuat atau diciptakan)


Selain itu, bahasa Arab dari rumah pun dibagi menjadi bait ‘tempat bermalam’, dār ‘tempat beraktivitas’, maskan ‘tempat menetap dan tinggal dengan tenang’, dan manzil ‘tempat singgah’. Jika melihat definisi-definisi di atas, kita mendapatkan tempat bernaung untuk dua hal, yaitu hal materiel dan hal spiritual. House beserta bait dan dār bermakna ‘tempat bernaung untuk hal materiel’ dan home beserta maskan bermakna ‘tempat bernaung untuk hal spiritual’. Setiap rumah mesti disinggahi agar terasa fungsi naungannya. Itu berarti apa pun yang membuat kita merasa terlindungi bisa disebut rumah. Untuk perlindungan dari bahaya fisik, seperti panas matahari, badai, hujan, salju, atau bahkan makhluk hidup lain, kita bernaung di bangunan yang kita sebut rumah. Kemudian, bagaimana dengan perlindungan dari bahaya yang nirbentuk? Rumah tidak hanya harus sebuah bangunan, tetapi juga hal-hal lain yang bisa melindungi diri kita agar bisa disebut home.

Dunia ini memang penuh dengan mara bahaya yang bisa datang dari arah mana saja. Oleh karenanya, kita patut meminta perlindungan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Penolong. Allah menolong kita dengan banyak cara., tentu salah satunya adalah dengan memberikan kita rumah. Rumah yang diberikan dapat berupa tempat tinggal dan keberadaan orang-orang saleh di sekitar kita. Bukankah berkumpul bersama orang-orang saleh merupakan salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian spiritual (ingat lagu “Tombo Ati”[3] oleh Sunan Bonang)? Bersama dengan orang-orang saleh akan memberikan perlindungan dalam kehidupan kita yang penuh intrik dan konflik. Kita, sebagai manusia, merupakan makhluk sosial yang perlu melakukan interaksi dengan manusia lain. Tidak ada yang salah dengan menemukan rumah (home atau maskan) kala berinteraksi dengan manusia lain, terutama bila manusia itu adalah orang yang saleh dan orang yang saleh itu adalah sahabat kita.

Mengacu kamus lagi, definisi sahabat adalah teman yang akrab dengan kita[4]. Sudah sewajarnya kita merasa nyaman tinggal di rumah yang kita kenali dengan baik. Pasti membahagiakan untuk selalu bisa dekat dengan rumah dan punya tempat untuk kembali, tempat untuk pulang saat lelah beraktivitas. Coba bayangkan kalau kita tiba-tiba terdampar di lokasi asing dan tidak bisa pulang, pasti rasanya kacau dan tidak tenang. Maka dari itu, kita harus bersyukur kepada Allah karena kita diberikan sahabat sebagai tempat untuk pulang dan cara untuk bersyukur itu adalah dengan beribadah. Sebagai muslim, kita memiliki kewajiban beribadah kepada Allah dan kita butuh beribadah untuk memulihkan diri dari perihal terkait dunia. Apakah keberadaan sahabat yang saleh dapat membantu kita dalam beribadah? Jawabannya adalah iya. Kita tidak bisa sepenuhnya hidup sendirian dan terisolasi dari manusia lain. Manusia pasti pernah salah dan lupa, tetapi sebaik-baiknya manusia yang berbuat salah adalah yang bertobat[5]. Aliran filsafat Stoisisme mengemukakan manusia tidak akan bisa melawan hukum alam (fitrah) dan manusia perlu memfokuskan diri pada persaudaraan dan persahabatan manusia serta saling menolong dan mencintai sesama. Seneca (4 SM s.d. 65 M), seorang filsuf Stoisisme Yunani, mencetuskan bahwa manusia itu suci bagi manusia lain yang kemudian menjadi pokok dari hubungan yang humanistis[6]. Dalam perjalanan mencapai suatu tujuan (di sini, yang dimaksud adalah Tuhan yang disembah), manusia mendapatkan sesuatu dari manusia lain, manusia melepaskan sesuatu dari manusia lain, atau mungkin ada juga manusia yang menjadi manusia kembali karena manusia lain[7]. Jangankan filosofi dari para filsuf, penjelasan mengenai hubungan antarmanusia pun terdapat pada Al-Qur’an dan hadis. “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” “Jika kalian berbuat baik kepada orang lain, sesungguhnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri.”[8] Itulah yang disebut rehumanisasi. Alangkah baiknya jika ada sahabat yang mengingatkan jika kita berbuat kesalahan dan membuat kita belajar darinya sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Begitu juga sebaliknya ketika sahabat kita yang melakukan kesalahan. Kita bisa menolong sahabat kita dan saling berbagi ilmu dengannya. Memiliki sahabat yang saleh memperbesar peluang kita untuk selalu mengingat Allah dan melaksanakan kebaikan sesuai perintah-Nya.
 
Para teladan kita pun memiliki sahabat di sisi mereka saat mereka menyiarkan ajaran Islam. Kita tentu mengetahui kisah Rasulullah dan para sahabatnya yang saling membantu dan mengayomi dalam ketaatan kepada Allah. Kita juga mengetahui kisah persahabatan kedua saudara, Musa dan Harun. Musa yang berwatak keras, tegas, dan terus terang mengimbangi Harun yang patuh, sabar, dan lemah lembut[9] serta Harun yang lebih pandai berbicara dapat memberi sokongan untuk Musa[10]. Musa dan Harun saling melengkapi satu sama lain selama mereka menyerukan firman Allah kepada kaum Bani Israil. Kelemahan yang satu ditutupi oleh orang yang lain, begitu pula kelebihan yang satu semakin diperkuat oleh orang yang lain. Ada juga kisah persahabatan Imam Syafi’i dan Sayyidah Nafisah, seorang murid laki-laki dan seorang guru perempuan[11]. Tiap individu merupakan orang yang sama-sama brilian, tetapi bersama, mereka berdua dapat menelurkan gagasan-gagasan intelektual demi kemaslahatan umat. Persahabatan mereka bisa menjadi contoh jika kita memiliki sahabat dari lawan jenis. Dengan siapa pun itu, hubungan persahabatan seharusnya mampu menghadirkan kebermanfaatan dan bukan kebalikannya.

Memang, dalam bersahabat, kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Maka dari itu, memilih dan memilah sahabat adalah sesuatu yang perlu dilakukan dengan kehati-hatian. Meskipun begitu, kita tidak dilarang untuk bersahabat dengan banyak orang dari berbagai latar belakang supaya kita membiasakan diri untuk berempati dan mengenal beragam manusia yang ada di muka bumi ini[12]. Tidak ada salahnya memiliki lebih dari satu sahabat. Tidak ada salahnya memiliki banyak rumah. Harapannya, kesalehan sahabat-sahabat kita sebagai rumah untuk kembali yang kita punya di dunia berbanding lurus dengan kadar keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah.

Seperti yang kita tahu, dunia adalah tempat menanam dan akhirat adalah tempat memanen. Pastikan kita mendapatkan hasil panen yang terbaik. Bersahabat dengan orang-orang saleh bisa menjadi ladang amal besar yang dapat membantu kehidupan kita kelak, baik di dunia maupun di akhirat. Sahabat-sahabat saleh mampu menopang hidup kita, para manusia, layaknya rumah yang dibangun di fondasi yang kokoh. Dunia hanya tempat singgah (manzil), maka kita harus memanfaatkan waktu yang ada saat singgah dengan baik. Bersyukurlah kepada Allah dan hargai keberadaan sahabat kita selama di dunia hingga waktunya kita “pulang” nanti.

Seluruh sungai akan bermuara dan mengalir menuju samudra. Kita semua akan kembali ke rumah asli kita, ke hadapan-Nya, ke akhirat. Sahabat sejati akan membantu kita dalam berbuat kebajikan dan memedulikan akhirat kita. Semoga kita bisa tinggal bersama sahabat di surga (janah) nanti. Amin.

Referensi:
[1] Oxford University Press. (2008). House. In Oxford Learner’s Pocket Dictionary (4th ed., p. 215).
[2] Oxford University Press. (2008). Home. In Oxford Learner’s Pocket Dictionary (4th ed., p. 212).
[3] Ibrahim, R. M. M. (2005). Tombo Ati [Recorded by Opick]. On Istighfar [MP3 File]. Jakarta: Aquarius Musikindo.
[4] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2005). Teman. In Kamus Besar Bahasa Indonesia (3rd ed., p. 1164). Balai Pustaka.
[5] HR. At-Tirmidzi no. 2499, Hasan.
[6] Gaarder, J. (2014). Dunia Sophie. Bandung: Penerbit Mizan. Hlm. 152—153.
[7] Dhirgantoro, D. (2007). 5 cm. Jakarta: Penerbit PT Grasindo. Hlm. 105.
[8] Baraba, F. H. (n.d.) Pribadi Yang Bermanfaat. [Online]. Diakses dari https://muslimah.or.id/6435-pribadi-yang-bermanfaat.html pada 17 Februari 2021.
[9] Kurniawan, D. C., Nababan, M. R., & Santosa, R. (2018). Karakter Persona Dalam Surah Ta-Ha Tentang Kisah Nabi Musa As Melalui Pendekatan Endofora. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya (e-Journal), 4(2), 214—216.
[10] Al-Qur’an 28:34.
[11] Hosen, N., & Hammado, N. (2013). Ashabul Kahfi Melek 3 Abad. Jakarta: Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika). Hlm. 100—104.
[12] Al-Qur’an 49:13.
 
(Unduh fail PDF-nya di sini.)

Sabtu, 28 Januari 2023

My Favourite '90s Romance Movies with Best Soundtracks

Romance movies could be a guilty pleasure. But, movies with songs as soundtracks are catching the vibe and convey many things in a movie! So, these are my favourite '90s romance/rom-com movies with my favourite songs as the soundtracks.


Romeo + Juliet (1996)

Very brief synopsis:
This is based on William Shakespeare's Romeo and Juliet, a young couple from two feuding families who fall in love with each other. The only difference is that this portrays more usage of firearms instead of swords/blades.
Favourite song(s):
  • "Local God" by Everclear
  • "You and Me Song" by The Wannadies
  • "Lovefool" by The Cardigans
  • "Talk Show Host" by Radiohead

City of Angels (1998)

Very brief synopsis:
You fall from grace only to be able to feel something, including love. Will it be worth it?
Favourite song(s):
  • "Iris" by Goo Goo Dolls
  • "Uninvited" by Alanis Morisette
  • "If God Will Send His Angels" by U2

She's All That (1999)

Very brief synopsis:
You need a date to the prom after you've broken up with your girlfriend. So, you're challenged to not only take an art geek/nerd to the prom but also make her the prom queen.
Favourite song(s):
  • "Kiss Me" by Sixpence None the Richer
  • "Prophecy" by Remy Zero
  • "Baby Got Going" by Liz Phair

Cruel Intentions (1999)

Very brief synopsis:
Again, you're trapped in a cunning bet/challenge. This time, you need to woo the headmaster's beautiful daughter.
Favourite song(s):
  • "Every You Every Me" by Placebo
  • "Coffee & TV" by Blur
  • "Colorblind" by Counting Crows
  • "Bitter Sweet Symphony" by The Verve

Rabu, 25 Januari 2023

Poliamori (Bagian 4)


Aku ingin membahas dua macam burger kesukaanku dari dua tempat makan yang berbeda. Yang satu adalah Deluxe Burger (kanan), yang satu lagi adalah Cheeseburger (kiri). Deluxe Burger adalah burger yang terdiri dari roti burger, daging ayam untuk burger yang renyah karena lapisan panir di luarnya, selada, potongan bawang, dan mayones. Cheeseburger adalah burger yang terdiri dari roti burger, daging sapi untuk burger, keju lembaran, acar, potongan bawang, saus tomat, dan moster. Dua-duanya sama-sama enak, sama-sama ... burger. Yang menariknya, walaupun keduanya sama-sama burger, keduanya sangat berbeda. Namun, perbedaan yang sangat jauh itu tidak membuatku berhenti menyukai keduanya. Memang sulit bagiku untuk memilih hanya salah satu. Toh, meskipun keduanya kesukaanku, masing-masing memiliki kekurangannya juga (seperti Deluxe Burger yang kadangkala rasanya bisa jadi agak hambar dan biasa serta Cheeseburger yang mengandung acar yang tidak aku suka)—biarpun enak. Kalau aku harus memilih salah satu di antara keduanya, entah, aku tidak tahu. Mungkinkah aku tidak akan memilih keduanya dan mencoba satu alternatif lain?

N.B.:
Sebenarnya, ada satu jenis burger lagi yang kusuka, yaitu Egg and Cheese Muffin, burger dengan telur orak-arik dan selembar keju di dalam setangkup muffin Inggris. Sayangnya, itu merupakan menu yang disajikan saat sarapan saja dan hanya tersedia di Jakarta (kabar terbaru: di Bandung juga ada, tetapi hanya ada pada jam-jam sarapan sampai pukul 11.00).

#KronikKepemimpinan
#SeriPoliamori

Selasa, 24 Januari 2023

Poliamori (Bagian 3)

Sumber:
Greschinov, E. (2016). Kuasai 20 Bahasa Populer Dunia. Jakarta: PandaMedia. Hlm. 67.

Dalam filsafat Yunani, cinta terbagi menjadi banyak macam.

Agapé (ἀγάπη) adalah cinta antara manusia dan Tuhan yang tanpa syarat; cinta altruis (tanpa pamrih).

Éros (ἔρως) adalah cinta antara seseorang dan pasangannya; cinta romantis, erotis, dan seksual.

Philía (φιλία) adalah cinta berupa kebaikan dan rasa perhatian terhadap sesama (cinta pada pertemanan); cinta platonik.

Storge (στοργή) adalah cinta sebagai bentuk empati dan rasa patriotisme; cinta familier (keluarga).

Xenia (ξενία) adalah cinta melalui keramahtamahan, seperti kepada tetangga atau tamu.

Pragma (πράγμα) adalah cinta abadi yang tidak akan berkurang kadarnya.

Mania (μανία) adalah cinta karena obsesi; cinta obsesif.

Ludus adalah cinta monyet, cinta yang keanak-anakan karena kepolosan dan dianggap permainan.

Philautia adalah cinta terhadap diri sendiri. Cinta terhadap diri yang tidak sehat akan berujung narsisme.

So, um, let's widen our view about love!

#KronikKepemimpinan
#SeriPoliamori

Sabtu, 17 September 2022

Lelaki Tipeku

Bolehkah aku mengenalmu? Menyapamu saat di jalan? Memanggilmu ketika aku membutuhkanmu?

Alunan lagu "Taste in Men" dari Placebo berputar-putar di telingaku. Ini adalah salah satu lagu Placebo favoritku karena cukup enak didengar, tetapi materi lagunya sendiri terlalu berat untuk aku rekomendasikan ke orang lain, terutama ke lelaki yang kusuka. Yah, aku agaknya bakal menyembunyikan fakta bahwa aku penggemar musik rok meskipun mereka, sih, bisa terima-terima saja.

Itu juga yang menjadi masalahku. Ada lelaki yang aku suka yang juga menikmati lagu rok. Aku berusaha untuk menjembatani percakapan tentang lagu-lagu rok dan grup yang bisa jadi kami berdua sukai dengannya. Tapi, kapan? Dan pertanyaannya selalu: "Kapan?"

Aku ini orang yang pemalu, tetapi aku suka mengobrol dengan orang lain. Kenyataannya, aku tidak butuh tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk memulai obrolan dengan orang lain. Justru, ketika aku sedang merasa rendah-rendahnya, saat itu juga aku perlu mengobrol dengan orang lain agar aku bangkit lagi serta tahu "mengapa" dan "bagaimana" dalam menjalani hidup. Ada saat di mana aku merasa percaya diri, ada juga yang tidak. Nah, apa sebenarnya yang menghalangiku mengobrol dengan lelaki yang kusuka baik di saat aku percaya diri maupun di saat aku sedang tidak percaya diri? Aku harusnya bisa mengobrol di antara kedua waktu itu, bukan?

Begini, berdasarkan pengalamanku, waktu adalah elemen yang amat penting dalam sistem cinta. Waktu punya kekuatan untuk mengatur arah gerak ke mana keseluruhan sistem akan menuju. Kalau waktunya tidak tepat, ya, bisa hancur sistem cintanya. Mungkin aku trauma? Karena pernah satu-dua kali sistem cinta yang kubangun hancur? Yah, bukan hanya sebab masalah waktu, sih. Aku memang pernah gagal, maka aku mau belajar lebih banyak lagi.

Bagaimana caranya agar aku tahu kapan aku bisa mengobrol dengannya?

Toh, aku tahu apa yang harus kukatakan.

Aku ingin bilang kepada lelaki yang kusukai, "Bahwasannya kamu keren, kamu lucu, kamu pintar, itulah dirimu. Kamu adalah pemimpin. Aku menyukai kepemimpinanmu, tapi ada aspek-aspek lain yang ingin aku suka. Makanya, aku akan sangat menikmati berbincang denganmu agar aku paham dan mengerti. Karena kamulah lelaki tipeku. Aku menghormatimu, pasti. Jadi, bagaimana kalau kita mengobrol berdua saja? Kapan?"

Di saat tulisan ini selesai, aku masih mencari tahu caranya.

#KronikKepemimpinan

Minggu, 07 Agustus 2022

Pesan Untukmu

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tahukah kamu mengapa suatu pesan selalu diawali dengan salam?

Kata 'selamat' di bahasa Indonesia diturunkan dari kata 'salam' dalam bahasa Arab. Mengucapkan salam berarti mengharapkan keselamatan untuk orang yang mana pesan tersebut ditujukan. Keselamatan itu penting, lho, di dunia yang mengandung banyak mara bahaya ini. Tanpa keselamatan, bagaimana pesan itu bisa sampai? Tanpa keselamatan, bagaimana kamu akan membaca tulisanku ini?

Ya, aku mengharapkan keselamatan bagimu. Dan, ya, aku punya pesan untukmu. Dalam bahasa Indonesia (meski bahasa Inggris adalah bahasa dunia secara global). "Mengapa?" Karena aku orang Indonesia dan bahasa Indonesia adalah bahasa ibuku. Omong-omong soal ibu, aku jadi ingin tahu kabar ibumu, lalu ayahmu, lalu keseluruhan keluarga dan teman-temanmu, tetapi mari kita simpan itu untuk lain waktu. (Toh, aku mengharapkan keselamatan untuk mereka juga.)

Oke, sudah basa-basinya. Ada hal yang mau aku tanyakan. Menurutmu, apa yang membuat manusia melanjutkan hidup? Apakah cita-cita? Apakah mimpi? Banyak motivator yang bilang kalau mimpi adalah bahan bakar seseorang melakukan sebuah pekerjaan, menebarkan manfaat, dan mendapatkan kekayaan. Kalau begitu, apakah mimpi sudah terlalu diglorifikasi? Dan setelah suatu mimpi terwujud, apakah kita berhenti bermimpi? Atau ada mimpi baru? Mimpi yang lain?

Apakah itu adalah orang yang tersayang? Kalau orang yang tersayang itu tiada, apakah kamu akan tiada juga? Apakah kamu akan berhenti melanjutkan hidup? Apakah kamu akan merasa sendirian? Merasa kesepian? Merasa tidak punya siapa-siapa lagi? Manusia-manusia sebenarnya saling membutuhkan, bukan?

Aku baru saja mendengarkan dua lagu Indonesia, Apatis dan Separuh Aku. Dunia penuh ke-random-an berupa, katakanlah, jurang-jurang bahaya berkeliaran dan padang rumput hijau yang bahkan tidak terhampar seperti di lagu Apatis. Akan tetapi, di sinilah kita, masih hidup hingga saat ini. Mau bagaimana pun, kita harus melewatinya. Agar kita bisa melewatinya, ada satu orang yang wajib kita rangkul: diri kita sendiri. Diri kita memiliki kecenderungan untuk mencari apa pun yang mampu membuat kita merasa lengkap seolah-olah melengkapi separuh dirinya. Bisa jadi cinta, bisa jadi cita-cita. Jika diri ingin merasa lengkap, kita wajib mengenal diri sendiri sehingga kita tidak seperti orang yang sudah dibelah separuh, kehilangan setengah bahkan hingga keseluruhan esensi. Meskipun tampak demikian, dengan mengenal diri, kita tidak akan pernah sendirian. Cukup dengan membuka mata, menghadapi dan menantang dunia, merefleksikan kesalahan kita, dan belajar berwibawa. Selanjutnya, terserah bagaimana kita berjuang mewujudkan mimpi selama itu membuat kita, para manusia, berkembang dan menjadi makin baik.

Tidak apa-apa jika kamu tidak punya mimpi.

Dan jika kamu punya mimpi dan tidak mau memberitahuku atau siapa pun, itu pun tidak apa-apa—asalkan kamu menuliskannya di suatu tempat untukmu sendiri. Menulis ekuivalensinya mengukir doa.

Mungkinkah melengkapi diri sudah merupakan sebuah mimpi itu sendiri, yang menjadi bahan bakar, yang membuat kita bersemangat hidup? Aku menawarkan pertanyaan atau pernyataan ini untuk kita pikirkan.

Kehidupan ini sesungguhnya indah. Aku senang kamu hidup saat ini, di kehidupan ini. Tidak perlu bermimpi terlalu tinggi, tidak perlu keras-keras berusaha. Hanya hidup. Aku merasa senang bahwa kamu membaca tulisanku sampai sini saat ini juga.

Aku tidak mengharuskanmu melakukan atau memfavoritkan sesuatu di atas hal lainnya. Kehidupan adalah belajar tentang keseimbangan. Hal-hal yang berlawanan dan sangat berbeda ternyata saling melengkapi dan saling membutuhkan. Bisa jadi, satu tiada, semua pun tiada. Ada yin, ada yang. Ada cahaya, ada bayangan. Ada terang dan gelap. Besar dan kecil. Cepat dan lambat. Teratur dan kacau. Panjang dan pendek. Dan masih banyak lagi. Menyeimbangkan aspek-aspek berlawanan, terutama dalam diri, bisa membantu untuk mengenal diri sendiri. Kamu akan menyayangi kelebihan dan kekuranganmu, kekuatan dan kelemahanmu, menerima dirimu sendiri karena dirimu adalah hal esensial yang kamu punya untuk melanjutkan hidup.

Sekarang, mungkin kamu bertanya-tanya "Siapa kamu?" Siapa sebenarnya diriku ini? Siapa aku yang secara semena-mena kini sedang mendoakan dan menyemangatimu? Itu, aku sendiri masih ingin mencari jawabannya. Namun, aku yakin aku akan menemukannya. Kalau kamu juga sedang mencari tahu, aku yakin kita sudah setengah jalan. Kita pasti bisa. Trust me! Percayalah!

Kita temukan diri kita masing-masing sebelum kita saling menemukan satu sama lain. Oke?

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga kamu selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa.

Kamis, 30 Juni 2022

Taman Bunga Misterius

Saat ini, aku sedang berada di Jombang, Jawa Timur, rumah keluarga besarku dari sisi ibu. Rumah keluarga besarku ini terletak di blok yang tidak terlalu besar dengan neighbourhood yang tidak terlalu banyak juga. Nah, ada satu rumah yang cukup dekat dari rumah keluarga besarku ini yang dari depan tidak terlalu kelihatan besar, tetapi ke belakangnya luas. Di pelatarannya ditanami bunga-bunga kembang kertas Zinnia dan bunga matahari. Sebagai penyuka bunga matahari, aku selalu mengagumi bunga-bunga matahari yang ditanam di halaman depannya, yang dekat dengan pagar rumahnya. Satu hal lagi yang kuketahui adalah rumah itu dihuni seorang pria yang sering merawat tamannya sambil bertelanjang dada.

Suatu ketika, aku baru saja berjalan balik ke rumah dari jalan-jalan sore di sekitar perumahan keluarga besarku. Tidak lupa aku mengamati bunga-bunga matahari itu sambil jalan. Tiba-tiba, ada seorang ibu tetangga yang rumahnya tepat di sebelah rumah keluarga besarku terlihat memanggilku agar mendekat. Aku mendekati si ibu yang berdiri di depan rumahnya. Beliau mengatakan sesuatu kepadaku dalam bahasa Jawa. Aku tidak begitu ingat lengkapnya dan aku tidak sepenuhnya jago bahasa Jawa. Namun, aku coba transliterasikan sebisaku, begini katanya:

"Pria yang tinggal di [rumah kecil dengan taman bunga itu] tampaknya gila. Dia pernah membawa kresek-kresek besar berisi kresek-kresek lagi. Anak-anak kecil yang mendekati rumahnya sering disahutinya (maaf, di kalimat ini, aku tidak yakin apa yang dimaksud si ibu untuk diterjemahkan). Ya sudah, setelahnya, aku tidak berani menyapanya lagi."

Aku mendengarkan kata-katanya lalu aku izin pamit dan meninggalkan si ibu. Di rumah keluargaku, aku memikirkan yang kualami tadi. Hal pertama yang terlintas di benakku adalah "Kalau pria itu memang gila, mengapa tamannya cukup terawat?" Jangankan tamannya yang terawat, sekadar tamannya ada saja sudah cukup aneh. Aku mengerti satu-dua hal mengenai berkebun dan aku mengamati bahwa tanah tempat bunga-bunganya tumbuh bukanlah tanah yang subur dan gembur (bukan tanah, pasir malahan!). Menanam bunga di media tanam seperti itu pasti butuh kerja keras agar dapat tumbuh dan mekar berbunga. Yah, aku tidak tahu, sih, apakah bunganya hasil stek batang atau dari biji, tetapi bunganya cukup sehat sehingga bunga yang kuncup mekar dan yang kecil membesar. Terakhir kulihat, pria itu juga masih sedang merawat tamannya.

Aku tidak tahu soal kresek-kreseknya, tetapi aku juga menyimpan kresek-kresek dalam kresek. Sekilas aku teringat meme plastic bag-ception yang pernah kulihat di 9gag (dasar otaknya penuh meme!). Mungkin kreseknya untuk persediaan?

Kalau tentang anak-anak, aku rasa, pria itu tidak ingin tanamannya diganggu oleh anak-anak. Secara, anak-anak masih sangat aktif dan belum terlalu terkontrol. Sementara aku, yang sudah 20 tahunan hanya memandangi untuk mengagumi tanpa merusak ataupun menyentuh bunganya. Jadi, aku aman-aman saja, bunganya pun aman.

Mengenai bertelanjang dada, yah, mungkin memang begitu nyamannya. Toh, itu masih aman kalau dilihat dari sisi aurat laki-laki. Perawakannya agak seram, jadi wajar kalau ada rasa takut. Akan tetapi, sejauh ini, aku belum pernah diganggu pula olehnya.

Satu lagi yang membuatku terkejut, ternyata memang masih ada saja budaya "bisik-bisik tetangga" yang sangat kentara. Mungkin karena aku tinggal di kompleks yang orang-orangnya cukup ramah dan jarang menghakimi selama ini. Mungkin pria itu memang bukan orang yang ramah dan kalau kita memilih untuk tidak menyapanya juga bukan masalah. Dariku sendiri, aku mengapresiasi taman bunganya yang indah dan kemampuan pria itu merawat tamannya meskipun hampir-hampir tidak akan berinteraksi langsung.

Kesimpulanku, jika intuisi kita meminta kita untuk jangan langsung percaya sesuatu, coba ikuti dulu saja. Setelah itu, kita ber-tabayyun, mencari tahu lebih lanjut. Bahkan di bidang hukum ada yang namanya "praduga tak bersalah". Bukankah kita dianjurkan untuk berprasangka baik terlebih dahulu?

Yah, semoga saja taman dan bunga-bunganya tetap terawat hingga aku kembali lagi ke rumah keluarga besarku. Kalau tetap terawat, dugaanku mengenai pria itu belum tentu gila bisa jadi benar. Mungkin bukan gila, melainkan lebih ke eksentrik, ya.

Cukup sekian dariku.

Senin, 30 Mei 2022

Tentang Penggemar

Pernah enggak terpikir kalau kita punya penggemar rahasia? Siapa? Apakah itu orang yang tak dikenal atau justru teman terdekat kita? Ada berapa? Mengapa mereka bisa menggemari kita? Kok bisa gitu, lho.

Baru-baru ini, aku dibuat penasaran dengan keberadaan penggemar rahasia. Ada orang yang menyukaiku, tetapi mereka tidak mengatakannya secara langsung kepadaku, atau mereka sama sekali tidak mengatakannya. Entah mengapa. Mungkin mereka malu atau takut (apakah aku menyeramkan/mengintimidasi?) atau merasa bahwa hal itu tidak diperlukan atau tidak penting (lah kok?). Kalau begitu, sudah berapa lelaki yang aku buat memendam perasaannya? Mungkin aku yang tidak peka, bodohnya aku. Oke, waktunya kembali belajar agar jadi pintar. Memang agak sulit merasakan menjadi orang lain, tapi setidaknya, aku belajar berempati dan menurutku, memang ada banyak manfaat dari berempati serta pembelajaran tentang empatinya. Aku mampu merasakan apa yang teman-temanku dan orang lain rasakan; dari situ, aku juga mampu belajar.

Aku tahu beberapa kelebihan dan kekuranganku. Bisa jadi, ada beberapa dari itu yang membuat orang lain suka kepadaku. Banyak teori yang bilang, semakin percaya diri seseorang, semakin banyak juga yang akan menyukai orang tersebut. Kepercayaan diri menyangkut rasa nyaman seseorang dengan dirinya sendiri setelah mengetahui potensi-potensi dirinya, kelemahan dan kekuatannya (sambil coba bikin SWOT). Apakah aku nyaman dengan diriku sendiri? Tidak juga. Yah, kadang-kadang. Ada saat di mana aku tidak merasa percaya diri. Namun, aku bersyukur jadi diriku dan mencoba untuk menyukai diriku sendiri. Soalnya, cuma aku dan Tuhan yang tahu apa yang bisa dikembangkan dari diriku. Tapi, tentu aku punya titik buta yang bisa saja dapat dilihat orang lain. Jadi, kalau ada yang mau kalian lakukan dan sampaikan untukku, beri tahu saja! Mungkin itu berkaitan dengan titik butaku. (Kalau tidak bisa langsung, bisa lewat tautan bit.ly/KronikBuatAisy atau Secreto secreto.site/19195298 ini.)

I may sound cocky writing this, but this is just my honest thought. Dan terima kasih sudah membaca sampai sini hhe. Sudah. Itu saja.

Jumat, 01 April 2022

Semesta dan Kodenya

Tulisan ini mungkin adalah tulisan paling "bucin" yang pernah kutulis.
 
Aku membaca dua tulisan yang dibuat oleh dua orang yang berbeda, tetapi inti dari tulisannya nyaris sama. Masing-masing tulisan dibuat di platform yang berbeda dan pada waktu yang berbeda pula. Yang menjadi kebetulan yang paling menarik ialah kedua orang tersebut merupakan dua orang pria yang sama-sama kukagumi. Aku memikirkan bagaimana bisa dua orang yang berbeda memikirkan hal yang serupa. Mungkin mereka pernah merasakan nasib yang mirip, sedang menapaki jalan yang serupa, atau memiliki prinsip yang sama, jadi secara langsung atau tidak langsung, mereka berhubungan. Entah mengapa, pasti ada alasannya. Akan tetapi, bukan itu yang mau aku bahas.
 
Mereka membicarakan tentang simbol atau tanda dan makna yang mengisyaratkan sebuah probabilitas. Lalu, muncullah pertanyaan. Apakah simbol atau tanda dibuat terlebih dahulu baru diberikan maknanya atau simbol/tanda dibuat bersamaan dengan maknanya? Karena aku bukan ahli semiologi, aku pun penasaran. Memangnya, mana yang duluan? Atau apakah itu penting? Masalahnya, banyak hal di sekitar kita yang bisa menjadi simbol atau tanda. Sebut saja lebah atau tawon yang berwarna kuning-hitam. Warna kuning dan hitam pada lebah atau tawon seolah menyerukan "Aku berbahaya! Jangan dekat-dekat aku!" karena mereka memiliki sengat di pantat mereka yang dapat menyakiti siapa pun. Ada juga jajaran bintang di langit yang seringkali dijadikan petunjuk bagi orang-orang di bumi ke mana arah yang dapat mengantar ke tempat mereka hendak pergi atau kapan mereka akan bertani.
 
Pernah terdapat perdebatan di kalangan pakar bahasa dan sastra Indonesia. Ada yang bilang bahwa kata-kata itu netral yang selanjutnya manusia menafsirkan kata-kata itu sehingga kata-kata memiliki maknanya sendiri yang dapat memihak secara subjektif. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata-kata itu tidak netral dan tidak lahir dari kehampaan, pasti ada latar belakang sosial, budaya, politik, ideologi, dan bahkan ekonomi, yang dipakai manusia untuk hal-hal yang sama sekali tidak netral juga. Saat ini, tidak penting aku lebih setuju argumen yang mana. Yang pasti, di sini ditunjukkan bahwa kata-kata yang kita tulis dan baca di mana-mana pun mengandung simbol atau tanda yang pasti mengandung makna. Makanya, ada yang namanya makna denotatif (tersurat) dan makna konotatif (tersirat). Maknanya pasti ada di tiap rangkaian huruf, frasa, dan kemudian kalimat, entah terpampang jelas atau tersembunyi, langsung atau tidak langsung.
 
Semesta kita penuh misteri dan kode-kodenya yang semua itu meminta untuk dipecahkan dan dipahami, seperti benang kusut yang harus diurai agar lurus kembali. Kita ditantang untuk mengurai semua itu tanpa menghancurkan seluruh materi yang telah ada, seperti menggunting benangnya. Benangnya bisa jadi lurus lagi, tetapi menjadi tidak utuh karena terpotong. Di sinilah kita belajar untuk tidak mengartikan sesuatu di luar hakikatnya. Bintang-bintang di langit, yang merupakan massa berupa sebagian besar hidrogen dan helium, bisa menunjukkan arah tempat dan waktu dalam setahun, tetapi ia tidak bisa meramalkan masa depan, bagaimana nasib hidup dan siapa jodoh seseorang. (Inilah mengapa kita tidak bisa percaya ramalan bintang alias horoskop: karena itu tidak masuk akal.) Sudah ada ilmu pasti yang membuktikan bahwa bintang-bintang bisa menunjukkan arah dan waktu, kita tinggal menginterpretasikannya, bila perlu dengan perhitungan dan statistika. Tuhan menciptakan semesta juga beserta maknanya bagi manusia. Tuhan ingin manusia belajar dan mengerti. Intinya, hidup kita penuh dengan tanda-tanda yang perlu kita cari maknanya, baik secara kumulatif maupun secara insidental.
 
Ya, segala sesuatu pasti ada maknanya. Termasuk tulisan yang kubuat ini. Apakah makna dari aku membuat tulisan ini adalah untuk menjawab rasa penasaranku lalu aku mencoba menjelaskannya? Apakah maknanya untuk memikat pria-pria yang kusuka? Tenang saja, aku punya interpretasiku sendiri. Interpretasiku mungkin berbeda dengan interpretasi kalian. Jujur, aku tidak suka kalau semua hal dibuat 100% pasti, aku lebih suka menemukan kemungkinan di mana aku bisa bermain dengan situasi agar mencapai tujuan yang kumaksud.
 
Yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Tidak ada yang sempurna, tetapi selalu ada alternatif yang lebih baik. Ketidaksempurnaan yang pada akhirnya mengarah ke keteraturan. Bukankah semesta begitu?

Selasa, 18 Januari 2022

Jejak Senjakala

Sudah nyaris seumur hidup aku mencari jawaban dari “Apa itu pemimpin?”, “Apa arti kepemimpinan?”, dan untuk beberapa saat, aku sering melihatnya ada pada dirimu. Dahulu, aku melihatmu sebagai seorang pemimpin, pemandu, mentor, serta sumber ilmu untuk belajar memimpin dan mencinta. Sampai-sampai aku berpikir kalau aku mulai merasakan cinta. Cinta yang membuat bertanya-tanya “Apakah aku mencintaimu? Ataukah aku mencintai kepemimpinan?”.

Mungkin kamu dan orang-orang itu, orang-orang yang katanya mencintaimu dan kaucintai, bilang bahwa kalian lebih menyukai matahari terbenam di saat senja. Ketahuilah, aku si anak kemarin sore, bocah ingusan yang selalu mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Aku malah ingin bilang kalau aku tidak terlalu menyukainya karena itu berarti tanda aku akan berpisah denganmu. Dan mungkin memang lebih baik begitu. Aku harus memisahkan diri darimu karena aku tidak mau terlalu bergantung kepadamu. Kebahagiaanku, kepintaranku, pekerjaanku, seharusnya semua itu tidak dipengaruhi olehmu.

Saat aku akhirnya berpisah denganmu—sebentar, kita mundur sedikit. Sebelum aku berpisah denganmu, aku selalu menyadari adanya beberapa persamaan di antara kita. Namun, aku bukan refleksimu. Kamu bukan milikku dan kamu bukan aku. Aku mungkin seorang pemimpin, begitu juga dirimu, tetapi aku harus tahu bahwa kita adalah pemimpin yang berbeda. Kita pun akan memimpin dengan cara yang berbeda. Hanya saja, lucu juga kalau mengingat aku berkali-kali meminta saran darimu, yang belum tentu cocok untukku, kusukai, dan bahkan kuturuti. Yah, itu tidak berarti aku menyesalinya. Bukankah kita diminta untuk melihat sesuatu dari banyak perspektif? Dengan begitu, kita bisa belajar berempati. Kini, biarkanlah aku melangkah dari bayang-bayangmu selagi bayanganmu di sore hari makin memanjang hingga ia tidak bisa meraihku lagi dan aku hilang di kegelapan. Aku butuh tidur sehingga hari esok mendatang bisa lebih baik sesuai intuisiku.

Aku hanya perlu menunggu lalu membuka jendela di pagi hari, melihat matahari terbit yang kusukai dan membuatku tersenyum.