Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2020

Di Kebun Teh


Di kebun teh, pagi tadi
engkau bercerita
"Tempat ini bagaikan
kemonotonan yang dinamis
dan kita berlarian di sini."

Mengganggu ibu-ibu pemetik
Melesat di atas gemburnya tanah
Hijau dan hijau di pelupuk mata
Rona merah pada romanmu
Mendengarmu dan hatiku memekik

Suatu hari
akan kuberikan kebenaran
atas paksa teruntuk kita
agar aku tidak menggesa
dan engkau tidak menggusar

Di kebun teh, malam ini
engkau bertafakur
bersembunyi dari yang mencari
untuk menunjukkan
yang sebelumnya tidak terlihat

Sabtu, 03 Februari 2018

Alasan

Aku benci kamu

Perasaan ini cukup mengganggu
Aku tidak peduli
Aku akan menyatakannya

Ini akan memalukan
Tapi, kamu sendiri menungguku
menyatakannya

Toh, aku tidak akan
berteriak-teriak di podium
agar kamu mendengar

Lalu, mengapa?
Adakah upah yang kudapat?
Segalanya penuh bintang kelabu
di konstelasi senjata pikiran

Berapa alasan yang dibutuhkan?
Sekuat apa alasan itu?
Nah, ini milikku

Jika tidak ada
yang bisa kulakukan,
aku akan berakhir dengan mengumbar janji
tanpa menepatinya

Itulah alasanku
melakukan sesuatu

《Bandung, 3 Februari 2018 pukul 8.00》

Rabu, 31 Januari 2018

Pascapanen

Mampukah kau bertahan
Berjalan dari hulu ke hilir
yang jaraknya tidak dekat?
Mengapa kita harus bertahan
dalam bukan kesengsaraan
yang membuat kita berkembang?
Walaupun nafas kita
terus mengalir
seolah akan habis
Namun, tengoklah pemandangan itu!
Kita akan membuktikan
bahwa hari, minggu, bulan, dan tahun
yang kita lewati
adalah untaian kemakmuran berkualitas

Mampukah?

《Jatinangor, 31 Januari 2018 pukul 20.45》

Sabtu, 01 Juli 2017

Informatika

Mereka bilang,
informasi adalah senjata
Tamasya dengan data-data
tampak menyenangkan dan nyata

Mereka bilang,
cangkang dilihat duluan
Lalu, bagaimana, Puan,
kalau sistem ini dianggap gurauan?

Mereka bilang,
bahasamu terlampau rumit
Namun, waktumu tidak sedikit
dan kau dengan cepat berkelit

Mereka bilang,
engkau bukan robot
Dengan program terbobot,
kebenaran apa yang kausorot?

《Jombang, 1 Juli 2017 pukul 12.10》

Lamunan

Aku
di sini
Pikiranku melayang,
menepi di antah-berantah









                                                      Benar, bukan?

《Jombang, 1 Juli 2017 pukul 15.26》

Minggu, 25 Juni 2017

Material

Tengadah padaku
Pada aliran energi ini

Hal-hal makro dimulai
dari hal mikro atau bahkan hal nano

Jikalau ini kepercayaan diriku,
kau menghantarkannya kepadaku

Dengan kesejatian segetas ini,
ke mana kita akan pergi?

《Jombang, 24 Juni 2017 pukul 10.19》

Sabtu, 24 Juni 2017

Mesin

Di barat sana
yang tidak bisa kaukunjungi
Matahari tengah terbenam
Waktu bukan siang, bukan malam

Jarum jam
dengan kejam
mengubah statika
yang ada

Di sini, ada struktur pergerakan
yang takperlu pergi jauh
Jika hanya manfaat yang dicari
Kau hanya berputar-putar

Manakala takdir didesain
Mungkin itu yang terjadi
secara mekanis
Biarkan itu berbuah manis

Jawablah,
mengapa kau menungguku?

《Jombang, 24 Juni 2017 pukul 5.01》

Selasa, 20 Juni 2017

Lingkungan

Sebuah lingkungan yang kaubawa
membuatku melawan gravitasi,
bahkan bilamana aku tersedot
ke dalam lubang hitam

Butuh lebih dari sekedar oksigen
yang membantuku bernapas
Disesaki oleh polutan
ternyata bisa melegakan

Bumi ini yang kaupijak
menyediakan mata rantai
setiap pasokan asam garam
yang telah kaualami

Kauangkat dan kauangkut semua beban
mengenai ekologi di antara kita
Kubiarkan perasaan ini bermitigasi
entah ke mana

Semuanya kaukelola
Dahaga telah diredakan
dan kelaparan telah berlalu
Mengapa aku masih merasa kurang?

...
...
...
Tidak adakah tempat itu?

Dan, inilah lingkungan yang kaubawa
Untukku?

《Bandung, 20 Juni 2017 pukul 20.01》

Sabtu, 17 Juni 2017

Kubenci Kenyamanan Ini

Kubenci kenyamanan ini
Berada di puncak tertinggi
membuatku merasakan kerendahan
Menyesakkan

Kubenci kenyamanan ini
Para pemenang dan para pecundang
terjatuh ke palung lipatan diktat
Dengan siapa diriku bersaing?

Kubenci kenyamanan ini
Seluruh dusta berkata jujur
di telinga para penyamun mimpi
Di mana kebenaran bersandar?

Kubenci kenyamanan ini
Sudah kuminum semua racun
sementara mortalitas menolakku
Keabadian yang singkat, bukan?

Kubenci kenyamanan ini
Sosok berkacamata itu berkata,
"Tinggallah di dalam dadaku."
Tidak! Sangkar tetaplah sangkar
meskipun dari emas
Aku tidak semulia dan se-inert itu!

Kepada Dian-dian Malam

Aku tidak tahu
mengapa aku di sini sebelumnya
Seandainya aku tahu
Kalaupun aku tahu,
aku tidak akan berandai-andai

Hanya bisa menyusuri jalan
selebar beberapa hasta
Yang sudah menjadi kebiasaanku
Hanya jaket denim menyelubungi badanku
dan bukan tangan-tangan itu

Aku tidak ingin khawatir
Rasa dingin menggigit tidak menyakitkan
Walaupun kadang aku mau mundur
Entah karena nyaliku kecil
atau karena nyawaku bisa hilang

Di tengah kekosongan yang tanpa tepi...

"Pandu aku!" teriakku.

《Bandung, 17 Juni 2017》

Pelangi Petrikor

Mengapa harus jadi anak kecil
Jati diri sentuh dan sentil
Telinga melihat sebagaimana pupil
Tidak mengandung walau ia hamil

Ah, hujan itu
Membiaskan berjuta perasaan
Mengurai makna dari prisma matamu
Stomata daun kuping ditembus tajam kesaksian

Sekali lagi, aku iri
Oleh kecandan pedagogi

Jumat, 02 Juni 2017

Cemburu


Enaknya menjadi dirimu
Sungguh menyenangkan
Bisa pulang malam, bisa pergi pagi
bebas beraktivitas

Dihormati bawahan, disayangi atasan
Semua mengenalmu

Setiap seruan tolong, kaubalas dengan uluran tangan
Masing-masing tugas kaukerjakan dengan baik

Bak harum odekolonye,
pengaruhmu menyebar luas
Engkau seperti suar
Indah, memikat, mengajak

Aku? Aku terbelenggu di sini
Hanya melihat
dari kaca jendela ke-gabut-an
Ke mana kakiku yang selama ini
menapak tanah?
Kurang memasyarakatkah aku?
Minuskah politikku?

Bolehkah kukatakan bahwa aku cemburu?

Aku cemburu
Ya, aku cemburu

Bukan, bukan karena popularitasmu
Walaupun
Aku memang ingin dihormati
Aku sangat butuh disayangi

Bukan pula karena wajah rupawanmu
Itu hal yang bagus, kutahu
Namun, hal itu tidak penting
sama sekali
Tetapi satu: kepemimpinanmu

Ah, ghirah ini semakin menjadi-jadi
Terus-menerus membakar
membumihanguskan emosiku
Luluh lantak sudah pikiranku
Kuingin perubahan
Takmau menjadi sama lagi

Pundak-pundakmu
Pemikul beban itu
adalah oasis inspirasiku

Makanya, aku sempat heran
Ada alasan kaubahagiakan semua orang
Mengapa kaulaksanakan pekerjaanmu
seperti itu

Kau menjelaskan kepadaku
nikmat jundi mengikuti pemimpin,
punya mimpi mandiri untuk saling membantu
dan gotong royong
Mimpimu adalah mimpi orang-orangmu
Sama dengan kaurelakan
mimpi pribadimu
(Atau, justru itukah mimpi pribadimu?)

Kaulakukan banyak hal itu untuk meyakinkanku
Kauingin aku menjadi pemimpin. Begitukah?!
Apa yang ingin kauikuti?
Kau bahkan memercayaiku menjadi amir
Setidaknya untuk diriku sendiri
Waktu itu

Kaubilang, kau berubah karenaku. Padahal,
aku yang berubah karenamu sebenarnya.

Jadi, siapa yang cemburu?

《Bandung, 2 Juni 2017 (8 Ramadhan 1438)》
Marhaban ya Ramadhan! Selamat berpuasa.
*Gambar atas asal comot. Hhe. Pinterest, deng.