Jumat, 01 April 2022

Semesta dan Kodenya

Tulisan ini mungkin adalah tulisan paling "bucin" yang pernah kutulis.
 
Aku membaca dua tulisan yang dibuat oleh dua orang yang berbeda, tetapi inti dari tulisannya nyaris sama. Masing-masing tulisan dibuat di platform yang berbeda dan pada waktu yang berbeda pula. Yang menjadi kebetulan yang paling menarik ialah kedua orang tersebut merupakan dua orang pria yang sama-sama kukagumi. Aku memikirkan bagaimana bisa dua orang yang berbeda memikirkan hal yang serupa. Mungkin mereka pernah merasakan nasib yang mirip, sedang menapaki jalan yang serupa, atau memiliki prinsip yang sama, jadi secara langsung atau tidak langsung, mereka berhubungan. Entah mengapa, pasti ada alasannya. Akan tetapi, bukan itu yang mau aku bahas.
 
Mereka membicarakan tentang simbol atau tanda dan makna yang mengisyaratkan sebuah probabilitas. Lalu, muncullah pertanyaan. Apakah simbol atau tanda dibuat terlebih dahulu baru diberikan maknanya atau simbol/tanda dibuat bersamaan dengan maknanya? Karena aku bukan ahli semiologi, aku pun penasaran. Memangnya, mana yang duluan? Atau apakah itu penting? Masalahnya, banyak hal di sekitar kita yang bisa menjadi simbol atau tanda. Sebut saja lebah atau tawon yang berwarna kuning-hitam. Warna kuning dan hitam pada lebah atau tawon seolah menyerukan "Aku berbahaya! Jangan dekat-dekat aku!" karena mereka memiliki sengat di pantat mereka yang dapat menyakiti siapa pun. Ada juga jajaran bintang di langit yang seringkali dijadikan petunjuk bagi orang-orang di bumi ke mana arah yang dapat mengantar ke tempat mereka hendak pergi atau kapan mereka akan bertani.
 
Pernah terdapat perdebatan di kalangan pakar bahasa dan sastra Indonesia. Ada yang bilang bahwa kata-kata itu netral yang selanjutnya manusia menafsirkan kata-kata itu sehingga kata-kata memiliki maknanya sendiri yang dapat memihak secara subjektif. Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata-kata itu tidak netral dan tidak lahir dari kehampaan, pasti ada latar belakang sosial, budaya, politik, ideologi, dan bahkan ekonomi, yang dipakai manusia untuk hal-hal yang sama sekali tidak netral juga. Saat ini, tidak penting aku lebih setuju argumen yang mana. Yang pasti, di sini ditunjukkan bahwa kata-kata yang kita tulis dan baca di mana-mana pun mengandung simbol atau tanda yang pasti mengandung makna. Makanya, ada yang namanya makna denotatif (tersurat) dan makna konotatif (tersirat). Maknanya pasti ada di tiap rangkaian huruf, frasa, dan kemudian kalimat, entah terpampang jelas atau tersembunyi, langsung atau tidak langsung.
 
Semesta kita penuh misteri dan kode-kodenya yang semua itu meminta untuk dipecahkan dan dipahami, seperti benang kusut yang harus diurai agar lurus kembali. Kita ditantang untuk mengurai semua itu tanpa menghancurkan seluruh materi yang telah ada, seperti menggunting benangnya. Benangnya bisa jadi lurus lagi, tetapi menjadi tidak utuh karena terpotong. Di sinilah kita belajar untuk tidak mengartikan sesuatu di luar hakikatnya. Bintang-bintang di langit, yang merupakan massa berupa sebagian besar hidrogen dan helium, bisa menunjukkan arah tempat dan waktu dalam setahun, tetapi ia tidak bisa meramalkan masa depan, bagaimana nasib hidup dan siapa jodoh seseorang. (Inilah mengapa kita tidak bisa percaya ramalan bintang alias horoskop: karena itu tidak masuk akal.) Sudah ada ilmu pasti yang membuktikan bahwa bintang-bintang bisa menunjukkan arah dan waktu, kita tinggal menginterpretasikannya, bila perlu dengan perhitungan dan statistika. Tuhan menciptakan semesta juga beserta maknanya bagi manusia. Tuhan ingin manusia belajar dan mengerti. Intinya, hidup kita penuh dengan tanda-tanda yang perlu kita cari maknanya, baik secara kumulatif maupun secara insidental.
 
Ya, segala sesuatu pasti ada maknanya. Termasuk tulisan yang kubuat ini. Apakah makna dari aku membuat tulisan ini adalah untuk menjawab rasa penasaranku lalu aku mencoba menjelaskannya? Apakah maknanya untuk memikat pria-pria yang kusuka? Tenang saja, aku punya interpretasiku sendiri. Interpretasiku mungkin berbeda dengan interpretasi kalian. Jujur, aku tidak suka kalau semua hal dibuat 100% pasti, aku lebih suka menemukan kemungkinan di mana aku bisa bermain dengan situasi agar mencapai tujuan yang kumaksud.
 
Yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Tidak ada yang sempurna, tetapi selalu ada alternatif yang lebih baik. Ketidaksempurnaan yang pada akhirnya mengarah ke keteraturan. Bukankah semesta begitu?

Selasa, 18 Januari 2022

Jejak Senjakala

Sudah nyaris seumur hidup aku mencari jawaban dari “Apa itu pemimpin?”, “Apa arti kepemimpinan?”, dan untuk beberapa saat, aku sering melihatnya ada pada dirimu. Dahulu, aku melihatmu sebagai seorang pemimpin, pemandu, mentor, serta sumber ilmu untuk belajar memimpin dan mencinta. Sampai-sampai aku berpikir kalau aku mulai merasakan cinta. Cinta yang membuat bertanya-tanya “Apakah aku mencintaimu? Ataukah aku mencintai kepemimpinan?”.

Mungkin kamu dan orang-orang itu, orang-orang yang katanya mencintaimu dan kaucintai, bilang bahwa kalian lebih menyukai matahari terbenam di saat senja. Ketahuilah, aku si anak kemarin sore, bocah ingusan yang selalu mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Aku malah ingin bilang kalau aku tidak terlalu menyukainya karena itu berarti tanda aku akan berpisah denganmu. Dan mungkin memang lebih baik begitu. Aku harus memisahkan diri darimu karena aku tidak mau terlalu bergantung kepadamu. Kebahagiaanku, kepintaranku, pekerjaanku, seharusnya semua itu tidak dipengaruhi olehmu.

Saat aku akhirnya berpisah denganmu—sebentar, kita mundur sedikit. Sebelum aku berpisah denganmu, aku selalu menyadari adanya beberapa persamaan di antara kita. Namun, aku bukan refleksimu. Kamu bukan milikku dan kamu bukan aku. Aku mungkin seorang pemimpin, begitu juga dirimu, tetapi aku harus tahu bahwa kita adalah pemimpin yang berbeda. Kita pun akan memimpin dengan cara yang berbeda. Hanya saja, lucu juga kalau mengingat aku berkali-kali meminta saran darimu, yang belum tentu cocok untukku, kusukai, dan bahkan kuturuti. Yah, itu tidak berarti aku menyesalinya. Bukankah kita diminta untuk melihat sesuatu dari banyak perspektif? Dengan begitu, kita bisa belajar berempati. Kini, biarkanlah aku melangkah dari bayang-bayangmu selagi bayanganmu di sore hari makin memanjang hingga ia tidak bisa meraihku lagi dan aku hilang di kegelapan. Aku butuh tidur sehingga hari esok mendatang bisa lebih baik sesuai intuisiku.

Aku hanya perlu menunggu lalu membuka jendela di pagi hari, melihat matahari terbit yang kusukai dan membuatku tersenyum.

Jumat, 10 September 2021

(Dibuat pada tanggal 2 September 2021)

"Prita, tolong bawa berkas yang kemarin ke kantor, ya. Saya mau koreksi dulu. Ditunggu sampai waktu jam makan siang."
 
Begitu kata suara bosku yang menelepon pukul 8 pagi tadi. Aku membelalakkan mata. Hah? Jadinya hari ini? Berkas yang dimaksud adalah berkas kontrak dengan seorang klien investor yang akan meneken kontraknya minggu depan (kami sudah janjian). Oh, iya, "kemarin" yang dimaksud adalah selumbari, Senin. Hari ini hari Rabu. Jadwalku masuk kantor adalah hari Senin dan Kamis, sisanya WFH. Senin lalu, bosku bilang untuk menyelesaikan dan bawa berkasnya waktu aku masuk lagi ke kantor, yaitu besok. Mengapa jadi harus hari ini?
 
Untunglah aku biasa bangun pagi dan sebenarnya, berkasnya sudah tinggal tahap koreksi sedikit-sedikit. Aku pun segera membuka laptopku dan mulai mengerjakan berkasnya. Aku hanya butuh sekitar 1 jam untuk menyelesaikannya. Setelah selesai, aku segera mandi dan berpakaian untuk ke kantor.
 
Pukul 9 pagi. Aku sebenarnya sudah sarapan, tetapi aku sangat mudah untuk merasa lapar lagi. Maka, aku selalu mampir ke kedai kopi untuk membeli sesuatu yang bisa dijadikan santapan brunch. Saat aku masuk, owh, yang sedang mengantre cukup banyak. Antrean yang berjarak pun menambah kesan "berjibun" dalam kedai kopi. Sekali lagi, untunglah orang-orang yang memesan tidak bisa mengonsumsi pesanannya di kedai, harus dibungkus, jadi kedai tidak perlu penuh sesak dan seharusnya itu mempercepat antrean berkurang.
 
Akhirnya, aku mendapatkan pesananku setelah 30 menit mengantre. Aku segera keluar kedai. Aku menyimpan pesananku, pai labu manis ukuran sedang dan kopi mochaccino di tempat tertentu di dashboard mobil. Aku menyalakan mobil dan kembali melaju.
 
Sampai akhirnya, di suatu titik menuju persimpangan jalan yang cukup besar, banyak kendaraan yang tidak bergerak di depanku. Macet. Aku terkejut melihat kemacetan ini. Lantas aku berhentikan mobilku. Ada seorang pedagang asongan lewat samping mobilku. "Ada apa ini?" tanyaku.
 
"Ada kecelakaan di perempatan gara-gara kabel lampu lalu lintasnya putus," jelas bapak pedagang asongan. "Lagi ditangani polisi dan petugas jalanan buat betulin lampu lalu lintas dan kondisi jalan."
 
Aku berterima kasih kepada bapak pedagang asongan dan menaikkan kaca jendela mobilku. Kecelakaan? Aku mengutak-atik aplikasi peta di gawaiku, tetapi seluruh alternatif jalan pun berwarna merah, menunjukkan penuhnya jalan tersebut. Aku menghela napas. Aku rasa, aku akan terjebak di sini hingga masalah kecelakaan teratasi. Jalan yang biasa aku lalui ini adalah jalur tercepat.
 
Tiiiin! Tiiiin!
 
Astaga! Aku rasa, aku tertidur sambil mengantukkan kepalaku di setir mobil hingga akhirnya klakson mobilku berbunyi. Aku melihat jam. Pukul 10.45. Waktu berlalu cepat sekali, ya, kalau ketiduran? Aku agak panik karena sebentar lagi pukul 11 dan aku belum sampai kantor. Untuk menenangkan diri, aku memakan seluruh paiku dan minum mochaccino yang kubeli tadi.
 
Tiiiin! Tiiiin!
 
Kali ini, suara klaksonnya dari mobil lain. Kendaraan sudah mulai berjalan lagi, pertanda masalah kecelakaannya sudah beres dan lalu lintas lancar lagi. Aku segera membersihkan kedua tanganku dan kembali menyetir (lagi-lagi, untunglah, aku sudah menyalakan mesin mobil agar panas kembali sembari makan). Aku membawa mobilku dengan agak mengebut ke kantorku supaya cepat sampai. Pukul 11.15, aku melesat masuk ke dalam gedung kantor, menaiki lift, dan berjalan cepat ke ruangan bosku.
 
Namun, nihil.
 
Aku mendekati meja kerja bosku. Bosku biasanya meletakkan laptopnya di atas meja, tetapi tidak ada apa-apa di mejanya. Tas laptopnya bahkan tidak terlihat di mana pun. Aku keluar ruangan bos diiringi tatapan bingung teman-teman karyawanku yang sedang masuk kantor. Mungkin mereka bingung mengapa aku ada di kantor hari ini. Aku pergi ke tempat resepsionis dan bertanya soal bosku.
 
"Pak Ardhi? Wah, saya tidak lihat. Para manajer yang masuk dan keluar harus absen di sini," kata mbak resepsionis sambil menunjuk mesin absen khusus para bos atau atasan lainnya yang ada di mejanya.
 
Aku kebingungan. Setelah mengucapkan terima kasih, aku mencari tempat untuk menelepon bosku. Akan tetapi, nomor yang kutuju selalu tidak dapat kuhubungi berkali-kali. Aku mencoba menghubungi lewat aplikasi chatting, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa pesanku dibaca. Akhirnya, aku pun pulang ke rumah setelah membeli frappuccino untuk menghibur diriku.
 
Keesokan harinya, aku datang pagi-pagi ke kantor. Aku menunggu bosku datang untuk memberitahukan semuanya. Bosku juga biasa datang pagi. Pak Ardhi cukup senang aku menyelesaikan tugasku dengan baik, tetapi beliau pun terheran-heran mendengar ceritaku.
 
"Menelepon kemarin pagi? Saya tidak menelepon Anda, Prita."
 
Aku, yang tidak percaya, mengambil gawaiku dan hendak menunjukkan history telepon kemarin ... tetapi tidak ada.
 
History telepon pukul 7 hari Rabu kemarin tidak ada, tidak tercatat. Akan tetapi, aku benar-benar yakin aku ditelepon oleh nomor Pak Ardhi kemarin. Aku pun mengecek Whatsapp karena aku ingat aku juga mengirim pesan kemarin. Ternyata, pesanku yang kukirim juga tidak ada, hilang begitu saja. Lagipula, kalau aku menghapus pesan Whatsapp yang telah kukirimkan, pasti masih ada balon katanya dengan keterangan tertentu, bukan?
 
Setelah aku menjelaskan semuanya, Pak Ardhi berkata, "Mungkin Anda sedang gelisah karena klien kita, investor yang bekerja sama dengan kita itu, adalah orang yang penting. Anda jadi ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Ya, saya lihat itu benar. Hasil kerja Anda juga sangat bagus. Tapi, ingat, Anda tidak boleh sampai stres saat kerja, terutama di masa pandemi ini. Selain itu, saya rasa, Anda harus mengurangi konsumsi kafein, Prita, supaya tidak kebingungan."
 
Pak Ardhi memang tahu kegemaranku meminum kopi. Pak Ardhi menerima hasil kerjaku untuk dikoreksi lebih lanjut dan memintaku untuk kembali ke tempat kerjaku. Aku berterima kasih kepada Pak Ardhi dan pamit undur diri. Di meja kerjaku, aku masih terheran-heran. Apa sebenarnya yang terjadi kemarin? Apakah aku salah?
 
Aku menggelengkan kepalaku. Kehidupanku harus tetap berlanjut. Yah, yang kemarin itu sudah berlalu. Sekalipun itu ternyata hanya mimpi. Meskipun begitu, selagi melanjutkan pekerjaanku, aku pun bertanya-tanya. Apakah yang kemarin itu hanya mimpi? Atau bukan?

(Dibuat pada tanggal 1 September 2021)

Meski sunset tidak terlihat semburat merahnya.
Walau malam tanpa bulan dan tak berbintang.
 
Aku ada di sini. Aku memandangimu dan di kepalaku penuh dengan segala deskripsi tentang dirimu. Aku tidak akan berpaling darimu. Lesap sudah keraguan yang ada pada dirimu. Awalnya, kamu merasa tidak akan pernah sebening mata air dan bermusuhan dengan cermin. Gunung berapi dalam dadamu sudah melontarkan lahar yang akhirnya meresap ke tanah tempat tumbuh dan munculnya flora dan fauna yang hidup di dalam semesta ini serta tempatku berpijak kini.
 
Aku ulangi, aku tidak akan berpaling darimu. Aku ingin menikmati pagi yang sejuk karena embun dan hangat karena cahaya matahari denganmu. Tidak mengapa jika kamu merasa hancur karena dari kehancuran bisa lahir sesuatu yang baru. Biarkan aku bernaung di bawah langit ini bersamamu sambil mengamati segala kelahiran yang terdapat di bumi pertiwi. Seluruh harap dan tanya merujuk ke suatu pernyataan yang tentu bakal menenangkan. Aku milikmu dan kamu milikku.
 
Kamu memang tidak sempurna, tetapi aku akan tetap mengagumimu, mengasihimu, dan mencintaimu.

Rabu, 21 Juli 2021

My Favourite Scenes and Dialogue in Movies

It's time to write this because I want to share it. Pardon, because I'm an Indonesian and the subtitles in the videos are in Indonesian. I try to make this short. So, without further ado, here they are.
 
(Caution: May contain spoilers)
 

Doctor Strange (2016)


Doctor Strange: "I'm not ready."
The Ancient One: "No one ever is. We don't get to choose our time."
The Ancient One: (Grabs Strange's hand)
The Ancient One: "Death's what gives life meaning, to know that your day is numbered. Your time is short." 

The Matrix Reloaded (2003)


Neo: "But if you already know, how can I make a choice?"
The Oracle: "Because you didn't come here to make the choice. You've already made it. You're here to try to understand why you made it."
*
The Oracle: "We're all here to do what we're all here to do."
*
The Oracle: "We can never see pass the choices [that] we don't understand."
Neo: "Are you saying I have to choose whether Trinity lives or dies?"
The Oracle: "No. You've already made the choice. Now, you have to understand it."

V for Vendetta (2005)


V: "You said you wanted to live without fear. I wish there'd been an easier way, but there wasn't."
*
V: "I know you may never forgive me, but nor will you understand how hard it was for me to do what I did. Everyday, I saw in myself everything you see in me now. Everyday, I wanted to end it. But, each time you refused to give in, I know I couldn't."
*
V: "You could have ended it, Evey. You could have given in, but you didn't. Why?"
Evey: "Leave me alone! I hate you!"
V: "That's it! See, at first, I thought it was hate too. Hate was all I knew. It built my world, imprisoned me, taught me how to eat, how to drink, how to breathe. I thought I'd die with all the hate in my veins. But then, something happened. It happened to me just as it happened to you."
Evey: "Shut up! I don't want to hear your lies!"
V: "Your own father said that artists use lies to tell the truth. Yes, I created a lie. But, because you believed it, you found something true about yourself."
*
Evey: "I can't feel anything anymore!"
V: "Don't run from it, Evey, you've been running all your life."
*
V: "This may be the most important moment of your life. Commit it to it."
*
V: "The only thing you had left was your life, but it wasn't."
Evey: "Oh, please."
V: "You found something else. In that cell, you found something that mattered more to you than life. Because when they threatened to kill you unless you gave them what they wanted, you told them you'd rather die. You faced your death, Evey. You were calm. You were still."
*
Evey: "God is in the rain."
*
(And then, Evey finds her newfound courage and forgives V seemingly.)

I wanted to highlight all dialogues in that scene, but it would be too long, so I picked some that I think is more relevant. :))


Passengers (2016)


Arthur: "Well, say you could snap your fingers and be wherever you wanted to be. I bet you'd still feel this way: not in the right place. Point is, you can't get so hung up on where you'd rather be that you forget how to make the most of where you are."


Kung Fu Panda 1 (2008), Kung Fu Panda 2 (2011), and Kung Fu Panda 3 (2016)

All of the scenes and dialogues, duh! I mean, it's my comfort movie saga with many valuable lessons.

***

And that's all from me. What are yours?

Rabu, 23 Juni 2021

Pembicaraan di Cermin

"Aku belum siap."

Itu yang kaukatakan seraya memasang muka datar. Aku membalas omonganmu.

"Tidak ada yang salah dalam menjadi belum siap. Namun, kamu tetap harus mengomunikasikan dengan dirimu sendiri apakah kamu siap atau tidak untuk menghadapi yang satu ini."

Kamu mengangkat sebelah alis. "Apa yang akan kuhadapi?"

"Kematian. Kematian yang membuat hidupmu mengandung arti dan waktu yang kaupunya terbatas. Tidak ada yang tahu kapan kamu mati, termasuk dirimu."

"Ini terlalu banyak untukku."

"Untukku juga."

"Aku tidak punya kapasitas mental yang cukup dan mumpuni dalam hal ini."

"Sama."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"

Aku menepuk pundakmu walaupun telapak tanganku membentur permukaan bening yang keras. Yah, masih kalah keras dengan realita saat ini, sih. Akan tetapi, aku tersenyum sambil berkata dengan cukup meyakinkan. "Kita masih punya satu sama lain."

- Pembicaraan di Cermin -
#KronikKepemimpinan

Selasa, 25 Mei 2021

Poliamori (Bagian 1)


 



Kamu, yang dingin dan isis dengan adanya rasa manis-pahit dari kepingan-kepingan coklat yang kecil seperti es krim mint chocolate chip. Kamu, yang manis dengan selai stroberi ditambah kejutan rasa potongan dan serpihan kue keju yang tidak terduga seperti es krim strawberry cheesecake. Kamu, yang terasa asam, menyengat, tetapi menyegarkan seperti es krim lemon. Kamu, yang dapat mengasuh tiga rasa—coklat, vanila, dan stroberi—sekaligus sehingga tampak komplit dan triwarna seperti es krim neapolitan. Kamu, es krim yang mengandung paduan rasa beri-berian, entah stroberi, bluberi, rasberi, atau lainnya, yang membuatku tersenyum karena keenakannya. Kamu, es krim rasa permen kapas, dan kamu, es krim rasa permen karet, yang menjadikanku mampu merasakan rasanya makan permen tanpa harus benar-benar memakan permen. Kamu, yang mampu menjaga keautentikan nilai-nilai masa kecil dan kenangan tradisional bak es krim kacang hijau, es krim ketan hitam, es krim durian, es krim nangka, dan es krim kopyor.

Kamu. Kamu semua. Kalian. Semuanya rasa es krim kesukaanku.

Aku harus pilih yang mana?

#KronikKepemimpinan
#SeriPoliamori



Minggu, 23 Mei 2021

Kilang Hayati pada Perairan

Aktivitas kilang hayati tidak hanya terbatas pada biomassa pada daratan saja. Kilang hayati dikenal sebagai melakukan kegiatan yang terintegrasi antara proses konversi biomassa untuk menghasilkan produk-produk tertentu  bahan bakar, dan bahan-bahan kimia dari biomassa sebagai koproduk kimia. Hal tersebut sangat mungkin dilakukan dengan biomassa yang bersumber dari perairan. Perlu diketahui bahwa 71% permukaan bumi tertutup oleh air dengan < 1% merupakan air tawar. Berdasarkan luas lahan, biomassa dari perairan akan menjadi lebih banyak daripada biomassa di daratan. Biomassa yang tersedia terdiri dari tanaman laut: mikroalga dan makroalga serta hewan laut: ikan, krustasea, dan moluska. Ada beberapa keuntungan dari kilang hayati pada perairan, di antaranya adalah limbah yang tidak akan dikonsumsi manusia, mengurangi kendala lahan pertanian, pertumbuhan lebih cepat, kondisi pertumbuhannya tidak perlu banyak syarat, dan komponen yang memiliki banyak manfaat. Tentunya, kilang hayati untuk perairan ini masih harus menekan jumlah buangan (zero waste), meningkatkan nilai hasil produk sampingan, meminimalkan konsumsi energi, dan mengoptimalkan efisiensi proses kilang hayatinya.

Berikut ini adalah pemanfaatan biomassa perairan.

Alga
Alga adalah tanaman berklorofil yang hidup  dalam air laut atau air tawar. Alga termasuk dalam divisi Thallophyta dan mengandung klorofil-a. Karena berklorofil, alga mampu mengubah karbondioksida menjadi biomassa dengan bantuan cahaya (fotosintesis). Alga terbagi menjadi mikroalga dan makroalga. Mikroalga merupakan organisme uniseluler dan prokariotik/eukariotik. Makroalga merupakan organisme multiseluler dan eukariotik. Rumput laut termasuk alga (makroalga) sebagai organisme plant-like. Makroalga terbagi menjadi alga coklat (Phaeophyceae), alga merah (Rhodopyceae), dan alga hijau (Chlorophyceae). Alga coklat mengandung pigmen xantofil (fukosantin) dan karotena yang membuatnya coklat, alga merah mengandung pigmen fikoeritrin yang membuatnya merah, dan alga hijaulah yang mengandung paling banyak pigmen klorofil (klorofil-a dan klorofil-b).
Perbandingan ukuran makroalga: Phaeophyceae > Rhodopyceae > Chlorophyceae
 
Contoh-contoh alga coklat:
  • Alaria sp.
  • Saccharina sp.
  • Saccorhiza sp.
  • Sargassum sp.
  • Undaria sp.
  • Famili Fucaceae
  • Famili Laminariaceae
Contoh-contoh alga merah:
  • Gracilaria sp.
  • Gelidium sp.
  • Gelidiella sp.
  • Hypnea sp.
  • Eucheuma sp.
  • Porphyra sp.
  • Kappaphycus sp.
  • Palmaria sp.
Contoh-contoh alga hijau:
  • Ulva sp.
  • Caulerpa sp.
  • Codium sp.
  • Monostroma sp.
Contoh mikroalga (hijau): Chlorella sp.

Rumput laut mengandung karbohidrat, protein, dan mineral-mineral sebagai nutrisi mayornya serta lipid dan vitamin-vitamin sebagai nutrisi minornya. Kandungan karbohidrat pada rumput laut dapat mencapai 76%. Karbohidrat hidrokoloid yang terkandung dalam rumput laut di antaranya adalah agar-agar, alginat, karagenan, fukoidan, dan laminaran. Yang merupakan polisakarida food grade adalah agar-agar (agarosa dan agaropektin), alginat, dan karagenan yang biasa ditemukan sebagai bahan makanan. Yang merupakan non-food grade polisakarida adalah fukoidan dan laminaran yang digunakan sebagai zat nutraceutical yang bermanfaat sebagai prebiotik. Selain itu, tentunya rumput laut juga memiliki kandungan serat yang tinggi. Kemudian, protein yang ditemukan pada rumput laut berupa protein aktif (lektin dan fikobiliprotein) dan asam amino (esensial: lisin, treonin, triptofan, metionin; non-esensial: sistein, glutamat, glisin, arginin, dan alanin).

Kandungan-kandungan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi beragam produk, baik pangan maupun nonpangan. Karbohidrat pada rumput laut bisa diolah menjadi bahan bakar alami bioetanol. Lipid pada rumput laut, meskipun tidak banyak, dapat dijadikan bahan bakar alami biodiesel selain bahan pakan. Jika ditemukan sisa rumput laut dari suatu pemrosesan, daripada dijadikan limbah tak berguna yang dibuang percuma, dari rumput laut dapat dibuat produk sampingannya. Memang, ada juga rumput laut dan alga yang dibudidayakan untuk keperluan bahan bakar dan mikronutrien lain yang dapat diekstrak dari rumput laut dan biasanya, mikroalgalah yang dibudidayakan untuk itu karena cenderung lebih mudah diolah. Untuk makroalga, biasanya makroalga perlu dikeringkan, dikecilkan ukurannya, dan disterilisasi sebagai bentuk pretreatment.

Berikut adalah pemrosesan rumput laut dari panen hingga penyimpanan beserta standar-standar untuk rumput laut konsumsi lalu proses kilang hayati untuk mengolah rumput laut yang tidak lolos standar konsumsi.
Gambar 1. Diagram Proses Pascapanen Rumput Laut
(Sumber: DJPB, 2015)

Gambar 2. Contoh Alat Pengering Rumput Laut Bertenaga Surya
(Sumber: Kadam dkk., 2015)

Gambar 3. Standar Mutu Rumput Laut Berdasarkan SNI 2690-2015

Gambar 4. Parameter Kualitas Rumput Laut
(Sumber: DJPB, 2015)
 
 Gambar 5. Proses Produksi Biofuel dari Mikroalga
(Sumber: Medipally dkk., 2015)
 
 Gambar 6. Biokonversi Mikroalga Menjadi Banyak Produk (Berlaku Juga untuk Makroalga)
(Sumber: Medipally, 2015)

Moluska dan Krustasea
Moluska dan krustasea adalah binatang yang memiliki cangkang keras untuk melindungi bagian tubuhnya yang lunak. Di dalam cangkangnya terdapat bagian daging yang tentunya bisa dimakan. Bagian cangkang yang tidak bisa dimakan ini masih bisa dimanfaatkan agar tidak menjadi limbah yang mencemari lingkungan. Kebanyakan cangkang moluska dan krustasea mengandung protein, kapur (CaCO3), dan kitin. Protein dari cangkang dapat diolah menjadi pakan hewan (darat dan laut), suplemen makanan, bumbu, dan obat-obatan. Kapur dari cangkang dapat diolah menjadi bahan bangunan dan ATK. Kitin dari cangkang dapat diolah menjadi kitosan yang digunakan dalam penelitian (mikro)organisme dan material tertentu.
Gambar 7. Produk Kilang Hayati Cangkang
(Sumber: Slide PPT Mata Kuliah Teknologi Kilang Hayati)
 
Proses pembuatan kitosan dari kitin yang terbuat dari cangkang:
  1. Dekolorasi
  2. Demineralisasi: Menghilangkan mineral, terutama kapur, dari cangkang dengan menggunakan larutan asam encer
  3. Deproteinasi: Mengurangi kadar protein dengan menggunakan larutan alkali encer dan pemanasan
  4. Deasetilasi: Melepaskan gugus asetil dari kitin

Ikan-ikanan
Ikan-ikan di perairan seringkali dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi. Sebagian besar ikan yang dikonsumsi terdapat di laut, lainnya di air tawar. Namun, pengolahan ikan sebagai bahan makanan tentu menghasilkan limbah yang dapat dimanfaatkan menjadi produk sampingan supaya limbahnya tidak terbuang percuma. Baik ikan yang dibudidayakan maupun ikan liar yang ditangkap dapat diolah untuk menghasilkan produk-produk dari kilang hayati. Adapun ikan-ikan berkualitas rendah yang tidak bisa dikonsumsi dan tidak diterima pasaran pun bukannya tidak bisa dimanfaatkan dalam kilang hayati perairan.

Limbah-limbah ikan dapat diambil komponen makro (protein dan lipid) dan mikronya. Caranya adalah dengan melakukan hidrolisis enzimatik dan sentrifugasi agar didapatkan komponen yang diinginkan. Dari situ bisa didapatkan daging lumatan untuk surimi, protein hidrolisat, kolagen, gelatin, peptida, asam amino, enzim-enzim, dan minyak ikan. Minyak ikan ini dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar alami, suplemen nutrisi, atau pakan hewan (darat atau laut).

Protein yang menjadi salah satu komponen yang terkandung banyak dalam ikan dapat dibuat menjadi fish protein hydrolysate (FPH). FPH adalah protein aktif dari penguraian protein ikan dengan konversi enzimatik.  Proses pembuatan FPH dilakukan dengan hidrolisis enzimatis menggunakan enzim papain menjadi peptida yang lebih sederhana. FPH mengandung asam amino, vitamin, dan mineral yang baik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan untuk pakan ternak, pupuk tanaman, dan suplemen makanan. Salah satu ikan yang menjadi sumber pembuatan FPH adalah ikan manyung/catfish (Arius thalassinus).

Ekstraksi FPH dari ikan manyung dilakukan dengan pengecilan ukuran dan pengeringan daging ikan. Ikan manyung berkualitas rendah disiapkan dan dibuat menjadi filet. Kemudian, filet ikan manyung direbus pada suhu 100°C. Daging ikan dicuci menggunakan air panas dan air dingin untuk menghilangkan bagian lemak. Selanjutnya, daging ikan diperas menggunakan alat white cloth mesh agar air dari daging keluar lalu digiling. Daging ikan yang telah digiling dicampurkan dengan enzim papain agar terjadi proses hidrolisis pada temperatur dan waktu tertentu. Setelah dihidrolisis, sampel daging dipanaskan pada suhu 75—800°C untuk menghentikan aktivitas enzim papain. Sampel daging dikeringkan dengan oven vakum. Setelah kering, sampel dihancurkan agar menjadi serbuk lalu diayak agar ukuran serbuk sama semua. Serbuk FPH disimpan dan dikemas dalam kemasan plastik polietilen yang bersegel.
Gambar 8. Diagram Alir Metode Ekstraksi FPH dari Ikan Manyung
(Sumber: Abraha dkk., 2017)
 
***
 
Begitulah gambaran kilang hayati pada perairan. Harapannya, pengetahuan mengenai kilang hayati pada perairan ini dapat membantu untuk mengurangi limbah produk dari perairan. Semoga implementasi kilang hayati pada perairan ini dapat menjadi nyata dan dikomersialkan di masa depan demi terlaksananya keberlanjutan lingkungan hidup.

Daftar Pustaka

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. (2015). Standar Nasional Indonesia: Rumput Laut Kering (SNI 2690-2015). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

[DJPB] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. (2015). Petunjuk Praktis Mengelola Pasca Panen Rumput Laut. Diakses dari http://www.djpb.kkp.go.id/arsip/c/265/PETUNJUK-PRAKTIS-MENGELOLA-PASCA-PANEN- pada 16 Mei 2021 pukul 21.00 WIB.

[DJPB] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. (2015). Cara Praktis Memanenan Rumput Laut yang memenuhi Standar Kualitas. Diakses dari http://www.djpb.kkp.go.id/index.php/arsip/c/261/CARA-PRAKTIS-MEMANENAN-RUMPUT-LAUT-YANG-MEMENUHI-STANDAR-KUALITAS/ pada 16 Mei 2021 pukul 21.00 WIB.

Abraha, B., Mahmud, A., Samuel, M., Yhdego, W., & Kibrom, S. (2017). Production of Fish Protein Hydrolysate from Silver Catfish (Arius thalassinus). MOJ Food Processing and Technology, 5(4), 329—335.

Kadam, U. K., Alvarez, C., Tiwari, B. K., O'Donnell, C. P. (2015). Processing of Seaweeds. In Seaweed Sustainability: Food and Non-Food Applications, (pp. 61—78). San Diego, USA: Academic Press.

Kim, J. K., Yarish, C., Hwang, E. K., Park, M., & Kim, Y. (2017). Seaweed aquaculture: cultivation technologies, challenges and its ecosystem services. Algae, 32(1), 1—13.

Medipally, S. R., Yusoff, F. M., Banerjee, S., & Shariff, M. (2015). Microalgae as sustainable renewable energy feedstock for biofuel production. BioMed research international, 2015, 1—13.