|
House (n) |
Home (n) |
|
1. building made for people to live in, usually for one family (bangunan yang dibuat untuk orang-orang tinggal di dalamnya, biasanya untuk satu keluarga) 2. people living in a house (orang-orang yang tinggal di dalam sebuah rumah) 3. building made for a purpose that is mentioned (bangunan yang dibuat untuk tujuan yang disebutkan pada namanya) 4. ... 5. ... 6. ... 7. ... 8. (usually the House of ...) old and famous family (biasanya menunjukkan nama keluarga [marga] bersejarah dan terkenal) |
1. place where you live, especially with your family (tempat tinggal, terutama bersama keluarga) 2. place for the care of old people or children (tempat untuk merawat orang-orang tua atau anak-anak) 3. place where an animal or plant lives naturally (tempat suatu binatang atau tanaman hidup secara alami) 4. place in which something was first discovered, made or invented (tempat sesuatu pertama kali ditemukan, dibuat atau diciptakan) |
Consider me as a "ronin" (wandering samurai) who has a knack of wanting to write anything
Senin, 18 September 2023
Pulang (Sebuah Pemikiran Tentang Persahabatan)
Apa yang pertama terpikirkan saat mendengar kata rumah?
Menurut penulis sendiri, pada dasarnya, rumah didefinisikan sebagai tempat bernaung. Dalam bahasa Inggris, rumah dibedakan menjadi house dan home. Tabel ini menunjukkan definisi dari house[1] dan home[2] menurut Oxford Dictionary.
Selain itu, bahasa Arab dari rumah pun dibagi menjadi bait ‘tempat bermalam’, dār ‘tempat beraktivitas’, maskan ‘tempat menetap dan tinggal dengan tenang’, dan manzil ‘tempat singgah’. Jika melihat definisi-definisi di atas, kita mendapatkan tempat bernaung untuk dua hal, yaitu hal materiel dan hal spiritual. House beserta bait dan dār bermakna ‘tempat bernaung untuk hal materiel’ dan home beserta maskan bermakna ‘tempat bernaung untuk hal spiritual’. Setiap rumah mesti disinggahi agar terasa fungsi naungannya. Itu berarti apa pun yang membuat kita merasa terlindungi bisa disebut rumah. Untuk perlindungan dari bahaya fisik, seperti panas matahari, badai, hujan, salju, atau bahkan makhluk hidup lain, kita bernaung di bangunan yang kita sebut rumah. Kemudian, bagaimana dengan perlindungan dari bahaya yang nirbentuk? Rumah tidak hanya harus sebuah bangunan, tetapi juga hal-hal lain yang bisa melindungi diri kita agar bisa disebut home.
Dunia ini memang penuh dengan mara bahaya yang bisa datang dari arah mana saja. Oleh karenanya, kita patut meminta perlindungan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Penolong. Allah menolong kita dengan banyak cara., tentu salah satunya adalah dengan memberikan kita rumah. Rumah yang diberikan dapat berupa tempat tinggal dan keberadaan orang-orang saleh di sekitar kita. Bukankah berkumpul bersama orang-orang saleh merupakan salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian spiritual (ingat lagu “Tombo Ati”[3] oleh Sunan Bonang)? Bersama dengan orang-orang saleh akan memberikan perlindungan dalam kehidupan kita yang penuh intrik dan konflik. Kita, sebagai manusia, merupakan makhluk sosial yang perlu melakukan interaksi dengan manusia lain. Tidak ada yang salah dengan menemukan rumah (home atau maskan) kala berinteraksi dengan manusia lain, terutama bila manusia itu adalah orang yang saleh dan orang yang saleh itu adalah sahabat kita.
Mengacu kamus lagi, definisi sahabat adalah teman yang akrab dengan kita[4]. Sudah sewajarnya kita merasa nyaman tinggal di rumah yang kita kenali dengan baik. Pasti membahagiakan untuk selalu bisa dekat dengan rumah dan punya tempat untuk kembali, tempat untuk pulang saat lelah beraktivitas. Coba bayangkan kalau kita tiba-tiba terdampar di lokasi asing dan tidak bisa pulang, pasti rasanya kacau dan tidak tenang. Maka dari itu, kita harus bersyukur kepada Allah karena kita diberikan sahabat sebagai tempat untuk pulang dan cara untuk bersyukur itu adalah dengan beribadah. Sebagai muslim, kita memiliki kewajiban beribadah kepada Allah dan kita butuh beribadah untuk memulihkan diri dari perihal terkait dunia. Apakah keberadaan sahabat yang saleh dapat membantu kita dalam beribadah? Jawabannya adalah iya. Kita tidak bisa sepenuhnya hidup sendirian dan terisolasi dari manusia lain. Manusia pasti pernah salah dan lupa, tetapi sebaik-baiknya manusia yang berbuat salah adalah yang bertobat[5]. Aliran filsafat Stoisisme mengemukakan manusia tidak akan bisa melawan hukum alam (fitrah) dan manusia perlu memfokuskan diri pada persaudaraan dan persahabatan manusia serta saling menolong dan mencintai sesama. Seneca (4 SM s.d. 65 M), seorang filsuf Stoisisme Yunani, mencetuskan bahwa manusia itu suci bagi manusia lain yang kemudian menjadi pokok dari hubungan yang humanistis[6]. Dalam perjalanan mencapai suatu tujuan (di sini, yang dimaksud adalah Tuhan yang disembah), manusia mendapatkan sesuatu dari manusia lain, manusia melepaskan sesuatu dari manusia lain, atau mungkin ada juga manusia yang menjadi manusia kembali karena manusia lain[7]. Jangankan filosofi dari para filsuf, penjelasan mengenai hubungan antarmanusia pun terdapat pada Al-Qur’an dan hadis. “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” “Jika kalian berbuat baik kepada orang lain, sesungguhnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri.”[8] Itulah yang disebut rehumanisasi. Alangkah baiknya jika ada sahabat yang mengingatkan jika kita berbuat kesalahan dan membuat kita belajar darinya sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Begitu juga sebaliknya ketika sahabat kita yang melakukan kesalahan. Kita bisa menolong sahabat kita dan saling berbagi ilmu dengannya. Memiliki sahabat yang saleh memperbesar peluang kita untuk selalu mengingat Allah dan melaksanakan kebaikan sesuai perintah-Nya.
Para teladan kita pun memiliki sahabat di sisi mereka saat mereka menyiarkan ajaran Islam. Kita tentu mengetahui kisah Rasulullah dan para sahabatnya yang saling membantu dan mengayomi dalam ketaatan kepada Allah. Kita juga mengetahui kisah persahabatan kedua saudara, Musa dan Harun. Musa yang berwatak keras, tegas, dan terus terang mengimbangi Harun yang patuh, sabar, dan lemah lembut[9] serta Harun yang lebih pandai berbicara dapat memberi sokongan untuk Musa[10]. Musa dan Harun saling melengkapi satu sama lain selama mereka menyerukan firman Allah kepada kaum Bani Israil. Kelemahan yang satu ditutupi oleh orang yang lain, begitu pula kelebihan yang satu semakin diperkuat oleh orang yang lain. Ada juga kisah persahabatan Imam Syafi’i dan Sayyidah Nafisah, seorang murid laki-laki dan seorang guru perempuan[11]. Tiap individu merupakan orang yang sama-sama brilian, tetapi bersama, mereka berdua dapat menelurkan gagasan-gagasan intelektual demi kemaslahatan umat. Persahabatan mereka bisa menjadi contoh jika kita memiliki sahabat dari lawan jenis. Dengan siapa pun itu, hubungan persahabatan seharusnya mampu menghadirkan kebermanfaatan dan bukan kebalikannya.
Memang, dalam bersahabat, kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Maka dari itu, memilih dan memilah sahabat adalah sesuatu yang perlu dilakukan dengan kehati-hatian. Meskipun begitu, kita tidak dilarang untuk bersahabat dengan banyak orang dari berbagai latar belakang supaya kita membiasakan diri untuk berempati dan mengenal beragam manusia yang ada di muka bumi ini[12]. Tidak ada salahnya memiliki lebih dari satu sahabat. Tidak ada salahnya memiliki banyak rumah. Harapannya, kesalehan sahabat-sahabat kita sebagai rumah untuk kembali yang kita punya di dunia berbanding lurus dengan kadar keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah.
Seperti yang kita tahu, dunia adalah tempat menanam dan akhirat adalah tempat memanen. Pastikan kita mendapatkan hasil panen yang terbaik. Bersahabat dengan orang-orang saleh bisa menjadi ladang amal besar yang dapat membantu kehidupan kita kelak, baik di dunia maupun di akhirat. Sahabat-sahabat saleh mampu menopang hidup kita, para manusia, layaknya rumah yang dibangun di fondasi yang kokoh. Dunia hanya tempat singgah (manzil), maka kita harus memanfaatkan waktu yang ada saat singgah dengan baik. Bersyukurlah kepada Allah dan hargai keberadaan sahabat kita selama di dunia hingga waktunya kita “pulang” nanti.
Seluruh sungai akan bermuara dan mengalir menuju samudra. Kita semua akan kembali ke rumah asli kita, ke hadapan-Nya, ke akhirat. Sahabat sejati akan membantu kita dalam berbuat kebajikan dan memedulikan akhirat kita. Semoga kita bisa tinggal bersama sahabat di surga (janah) nanti. Amin.
Referensi:
[1] Oxford University Press. (2008). House. In Oxford Learner’s Pocket Dictionary (4th ed., p. 215).
[2] Oxford University Press. (2008). Home. In Oxford Learner’s Pocket Dictionary (4th ed., p. 212).
[3] Ibrahim, R. M. M. (2005). Tombo Ati [Recorded by Opick]. On Istighfar [MP3 File]. Jakarta: Aquarius Musikindo.
[4] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2005). Teman. In Kamus Besar Bahasa Indonesia (3rd ed., p. 1164). Balai Pustaka.
[5] HR. At-Tirmidzi no. 2499, Hasan.
[6] Gaarder, J. (2014). Dunia Sophie. Bandung: Penerbit Mizan. Hlm. 152—153.
[7] Dhirgantoro, D. (2007). 5 cm. Jakarta: Penerbit PT Grasindo. Hlm. 105.
[8] Baraba, F. H. (n.d.) Pribadi Yang Bermanfaat. [Online]. Diakses dari https://muslimah.or.id/6435-pribadi-yang-bermanfaat.html pada 17 Februari 2021.
[9] Kurniawan, D. C., Nababan, M. R., & Santosa, R. (2018). Karakter Persona Dalam Surah Ta-Ha Tentang Kisah Nabi Musa As Melalui Pendekatan Endofora. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya (e-Journal), 4(2), 214—216.
[10] Al-Qur’an 28:34.
[11] Hosen, N., & Hammado, N. (2013). Ashabul Kahfi Melek 3 Abad. Jakarta: Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika). Hlm. 100—104.
[12] Al-Qur’an 49:13.
(Unduh fail PDF-nya di sini.)
Sabtu, 22 Juli 2023
IoT untuk Transformasi Produksi di Industri
Lean manufacturing (produksi ramping) merupakan praktik produksi dengan memperhitungkan penggunaan sumber daya agar tidak terjadi 3M (muda, muri, dan mura).
- Muda (無駄): hal yang tidak berguna, kesia-siaan, atau pemborosan.
- Muri (無理): hal yang tidak mungkin (berlebihan, di luar kapasitas).
- Mura (斑): hal yang tidak merata/seimbang dan rusak, ketidakseimbangan, atau kerusakan.
Prinsip produksi ramping ini memang berasal dari Jepang sesuai dengan 3M yang ingin dihindari. Salah satu cara untuk "merampingkan" pemakaian sumber daya adalah dengan digitalisasi shop floor (tempat produksi) yang dapat diakses di cloud web pada komputer/mesin. Digitalisasi produksi diperlukan dengan menerapkan sistem cyber-physical dengan IoT (Internet of Things). Sistem cyber-physical (Cyber-Physical System, CPS) ini membawa keuntungan untuk end-to-end, dari hulu ke hilir, pada produksi karena meningkatkan produktivitas dan mengurangi penggunaan sumber daya berlebihan sehingga kinerja produksi meningkat. Sistem cyber-physical untuk produksi ini menjadi disebut Cyber-Physical Production System (CPPS). Pengembangannya perlu dilakukan dengan sistem agile. Agile merupakan pengembangan teknologi, biasanya perangkat lunak, secara iteratif dan intensif mengikuti suatu aturan tertentu sehingga mampu menghasilkan teknologi yang sesuai permintaan, tepat guna, dan berkualitas tinggi.
Beberapa contoh metode agile:
- Scrum Methodology
- Scaled Agile Framework (SAFe)
- Lean Software Development (LSD)
- Kanban (看板)
- Extreme Programming (XP)
- Crystal Methodology
- Dynamic Systems Development Method (DSDM)
- Feature Driven Development (FDD)
- Adaptive Software Development (ASD)
- Rational Unified Process (RUP)
- Agile Modelling (AM)
Gambar 1. Tahapan Metode Agile untuk Pengembangan
Untuk pemakaiannya terdapat perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang harus tersedia. Beberapa contoh hardware dan software untuk teknologi nirkabel dengan IoT di antaranya adalah
- Hardware:
- AIR (accoustic impulse response)
- Barcode
- PTS (printed sensors)
- Raspberry Pi
- Arduino (Uno/Due/Mega/Leonardo/Fio/LilyPad/Nano/Mini/Micro/Ethernet/Esplora/Robot/Diecimila/Zero/Bluetooth/dll.)
- RFID (radio-frequency identification)
- Software:
- Digital twin
- CoAP (Constrained Application Protocol)
- MQTT (Message Queuing Telemetry Transport)
- HTTP (Hypertext Transfer Protocol)
- Bahasa markah: HTML (Hypertext Markup Language) dan XML (Extensible Markup Language)
- IDE (integrated development environment).
Gambar 2. Rancangan Hardware dan Evaluasi Teknis
Contoh rancangan hardware ditunjukkan pada Gambar 2. Tempat produksi dipasangi alat sensor sebagai pengganti manusia yang mencatat agar akuisisi data lebih mudah dan langsung (real-time). Adanya sensor membantu untuk menentukan kapan waktu produktif di tempat produksi. Dari pengakuisisi data juga akan ada timbal balik dengan tersedianya data-data aktivitas tersebut di web sesuai tipe data pada pemrograman yang berlaku (bergantung bahasa pemrograman) atau umpan balik fisik (dengan aktuator). Aktivitas produksi, seperti planning, scheduling, dispatching, sorting, sweeping, standardizing, dan controlling dapat dipantau secara otomatis pula, tidak secara manual lagi. Skema kerja pekerja dengan sistem IoT dan cloud, yang terdiri dari operator dan dispatcher, dapat dilihat sebagai berikut (Gambar 3):
Skenario kerja dispatcher (penugas):
- Melakukan scan/tap operator RFID.
- Melakukan penugasan dengan menulis Assignment ID.
- Memberikan kartu penugasan kepada operator.
- Melakukan pengecekan status scan/tap operator.
- Melakukan refresh data Assignment ID.
- Menyalakan mesin lalu melakukan persiapan.
- Melakukan scan/tap (1) kartu penugasan saat mulai operasi.
- Melakukan proses setup dan permesinan sesuai penugasan.
- Melakukan scan/tap (2) kartu penugasan saat selesai operasi.
- Mematikan mesin jika semua operasi telah selesai dikerjakan lalu mengembalikan kartu penugasan kepada dispatcher.
Terbukti bahwa pemantauan dengan digitalisasi ini memiliki keakuratan, ketelitian, dan konsistensi tinggi supaya produktivitas di industri ramping meningkat. Adanya digitalisasi dan otomatisasi dengan sensor dan IoT ini juga membantu pekerja manusia yang memiliki keterbatasan kerja dan tidak melibatkan terlalu banyak orang (pekerja manusia) dalam pemantauan produksi. Selain pada pemantauan proses produksi di shop floor, IoT juga dapat dimanfaatkan untuk preprocessing bahan baku mentah (sortasi, penilaian kelas atau grading, dan penimbangan), untuk pencampuran bahan (mixing) pada produksi, untuk pengepakan (packing) dan pengemasan (packaging), untuk evaluasi performa mesin dengan OEE (overall equipment effectiveness), untuk pelacakan (tracking/tracing) dan keterlacakan (traceability) produk ketika produk dikirim atau mengalami kerusakan (sehingga bisa ditarik kembali), serta untuk prediksi kapabilitas/availabilitas aset produksi agar optimum.
Pengembangan sistem IoT untuk pemantauan ini disarankan untuk industri yang besar sementara industri kecil masih opsional untuk memanfaatkan IoT karena skala sumber daya yang dipakai berbeda. Akan lebih berdampak jika IoT dimanfaatkan pada industri yang lebih besar dengan jam terbang lebih lama dan perencanaan yang terperinci. Ini juga bergantung kepada investasi yang bisa dilakukan pada pengembangan IoT industri untuk perusahaan.
Sistem IoT industri disebut juga IIoT, Industrial Internet of Things. Pemanfaatan IIoT dapat meminimalkan eror pada proses yang mampu mengarahkan kepada pembuangan produk, pemberhentian lini produksi, penarikan kembali produk per kloter produksi, kerja ulang ekstra, dan kehilangan kepercayaan pada produk/brand dari pelanggan/konsumen. Akan lebih menarik jika IoT dipadukan dengan bidang peningkatan kualitas bahan baku mentah dan kualitas produk jadi, seperti quality control (QC) dan quality assurance (QA). Harapannya, IoT memulihkan transformasi 3P, yaitu people, process, dan product/platform agar makin baik dalam industri.
"If the business doesn't perform, there is no today, and if the business doesn't transform, there will be no tomorrow."
(– Kutipan didapat dari PT Paragon Technology and Innovation)
***
Materi didapatkan dari webinar KKSM Lecture Series Sesi 5 "IoT-Based Production Monitoring" yang diadakan Kelompok Keahlian Sistem Manufaktur Teknik Industri ITB dengan pemateri Dr. Ir. Anas Ma'ruf, M.T. (dosen di Teknik dan Manajemen Industri ITB) pada 12 November 2022: 9.00—11.00.
Jumat, 14 Juli 2023
Sistem Intelijensi Pemasaran dengan Kecerdasan Buatan
Kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) merupakan algoritme komputasional yang membuat mesin belajar dari meniru kemampuan manusia. Makin mirip dengan kemampuan manusia, makin canggih AI. Ada beberapa jenis AI yang diketahui: weak AI, dengan kemampuan di bawah kemampuan manusia; strong AI, dengan kemampuan yang sama dengan kemampuan manusia; super AI, dengan kemampuan di atas kemampuan manusia. Tipe-tipe sistem AI dirincikan dalam Gambar 1 dan Gambar 2.
Gambar 1. Tipe-tipe Sistem AI
Gambar 2. Macam-macam Machine Learning
Teknologi AI sudah diintegrasikan dalam berbagai bidang pekerjaan, termasuk dalam pemasaran (marketing). Marketing membutuhkan AI untuk mempermudah riset pemasaran demi meningkatkan penjualan kepada pelanggan. AI membantu marketer dengan mempelajari tren yang terjadi saat-saat ini. Contohnya, AI mampu meningkatkan kata kunci untuk optimasi SEO dalam pencarian di mesin pencari. AI yang dapat digunakan minimal adalah analytical AI (baik yang disupervisi, yang tidak disupervisi, maupun yang diperkuat) untuk menambah market intelligence (intelijen pasar) dalam riset pemasaran. Keunggulan yang AI miliki adalah AI analitik mampu melakuan automatisasi karena repetitive learning, AI mampu mengidentifikasi langsung data-data tersembunyi dalam lapisan-lapisan yang tersembunyi pula, AI mampu beradaptasi dengan algoritme-algoritme progresif, dan AI mampu memperoleh akurasi tinggi dengan jaringan saraf tiruan (artificial neural networks).
AI untuk pemasaran ini didasari oleh integrasi proses, teknologi, dan alat analisis yang diterapkan secara kontinu untuk memantau, mengumpulkan, dan menganalisis data (tidak konvensional dan tidak terstruktur) lalu memproses data secara cerdas sehingga mendapatkan informasi, wawasan, dan pengetahuan untuk keputusan pemasaran yang lebih baik. Ada beberapa komponen dalam sistem AI, di antaranya adalah peniruan memori (memory emulation) dalam menyimpan dan memproses data, pembelajaran mesin (machine learning), reasoning and judgement untuk prediksi, simulasi, dan, optimisasi, serta teknologi antarmuka (interface) dengan speech recognition, natural language processing (NLP) (selengkapnya tentang NLP terdapat pada Gambar 4), pembacaan dengan sensor (sensor reading), dan computer vision. Untuk pembacaan data dan analisisnya sendiri dapat disokong dengan penggunaan statistika deskriptif, statistika inferensial, dan inferensi kausal. Bagaimana AI memproses data, informasi, pengetahuan, dan wawasan untuk membuat keputusan ditunjukkan pada Gambar 5.
Gambar 4. Natural Language Processing untuk AI
Gambar 5. Bagaimana AI Analitik Memproses Data
Ada beberapa teknologi yang memungkinkan percepatan pengembangan AI seperti sensor, IoT (Internet of Things), Big Data, teknologi penyimpanan "awan" (cloud), perangkat keras akselerator AI, deep learning, dan sebagainya. Terutama untuk marketing sendiri, AI mampu membuat peramalan (forecasting) dengan mempelajari pola data di masa lalu melalui pembelajaran berulang (repetitive learning) untuk menghadapi fluktuasi/volatilitas harga (price volatility) agar pendapatan dari permintaan pasar dapat diproyeksikan berdasarkan pangsa pasar (market share) perusahaan dan kerugian dapat ditanggulangi. Pemanfaatan AI sebagai intelijen pasar melengkapi kebutuhan akan data dalam pemasaran untuk menganalisis kondisi pasar secara lebih efisien.
***
Materi didapatkan dari webinar "AI for Marketing Intelligence" yang diadakan Pusat Artificial Intelligence ITB dengan pemateri Titah Yudhistira, S.T., M.T., Ph.D. (dosen di Teknik dan Manajemen Industri ITB) pada 28 Februari 2023: 13.00—15.00.
Selasa, 20 Juni 2023
Meningkatkan Umur Simpan Produk Pangan untuk Meningkatkan Usaha Pangan
Dalam industri pangan, umur simpan produk adalah selang waktu antara saat setelah produksi hingga produk ini dikonsumsi dengan keadaan yang masih layak/memuaskan sesuai dengan produk yang dijanjikan. Bahan makanan yang melewati umur simpan tidak memenuhi ekspektasi pelanggan sehingga disebut kedaluwarsa. Oleh karenanya, penentuan kedaluwarsa harus ditulis pada produk dalam bentuk tanggal sebagai informasi kepada konsumen/pelanggan kapan produk pangan berada dalam kondisi yang tepat untuk dikonsumsi. Penentuan kedaluwarsa ditulis berupa expiry date (EXP), best before date, dan use by date.
- Expiry date, tanggal kedaluwarsa
- Best before date, batas tanggal konsumsi produk di saat kualitas fisik terbaik (biasanya beberapa minggu atau bulan sebelum produk menjadi kedaluwarsa)
- Use by date, batas tanggal konsumsi produk dalam kondisi pangan yang aman
(Use by date dan expiry date hampir sama.)
Tentu kualitas dan keamanan produk pangan akan terjaga selama waktu tersebut jika produk disimpan sesuai dengan ketentuan yang berlaku (misal: disimpan dalam kulkas atau freezer, dalam tempat makanan tertutup, dsb.). Jika bahan makanan tidak disimpan dengan baik, bahan makanan dapat rusak lebih cepat daripada waktu yang telah ditentukan. Pada dasarnya, produk pangan terutama produk-produk segar adalah produk yang "hidup" sehingga perlu diperlakukan/ditangani sesuai sifat biologis, sifat kimiawi, dasar fisiologi, dan teknologi yang tepat. Lebih-lebih jika perlakuan/penanganan terhadap produk pangan yang dilakukan mampu memperpanjang umur simpan produk pangan.
Gambar 1. Teknologi Penyimpanan untuk Memperpanjang Umur Simpan Produk: a) Penyimpanan Dingin dan b) Penyimpanan Atmosfer Terkontrol
Kerusakan yang dapat terjadi pada produk pangan bermacam-macam. Berikut ini adalah macam-macam kerusakan:
- Kerusakan mikrobiologis
Kerusakan ini diakibatkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, kapang, dan/atau
jamur. Kerusakan mikrobiologis ini cepat menjalar dari produk yang rusak
ke produk lainnya yang belum rusak. Beberapa tanda-tandanya adalah
munculnya bintik-bintik berwarna putih, adanya lendir, atau adanya
pemisahan zat produk (seperti di produk cair, contohnya susu).
- Kerusakan mekanis
Kerusakan ini disebabkan benturan mekanis yang menghasilkan memar, penyok, irisan, potongan, dan lainnya sehingga terdapat kecacatan (perubahan) pada bentuk produk. Kerusakan mekanis dapat terjadi selama pemanenan, penanganan, persiapan sebelum pengolahan, transportasi, atau penyimpanan.
- Kerusakan fisik
Kerusakan ini disebabkan perlakuan fisik dari lingkungan eksternal seperti perubahan suhu (pemanasan atau pendinginan), perubahan tekanan udara, dan perubahan kadar air lingkungan. Kondisi lingkungan eksternal yang tidak cocok/tepat pada produk mampu menyebabkan perubahan pada produk sehingga kerusakan dapat terjadi dan mutunya dapat berkurang.
- Kerusakan biologis
Kerusakan ini disebabkan proses fisiologis dan metabolisme yang masih berlangsung pada produk pangan segar. Pada produk segar, enzim-enzim dan komponen kimiawi lain yang terkandung masih mampu menjalankan reaksi-reaksi kimia secara alami.
- Kerusakan karena keberadaan hama seperti serangga, tikus, burung, atau binatang lainnya.
Ada beberapa tanda-tanda dari kerusakan produk pangan, contoh di antaranya adalah
- konsistensi berubah dari yang semula,
- tekstur berubah dari yang semula,
- adanya memar,
- adanya lendir,
- berbau tengik,
- berbau busuk,
- gosong,
- pH menyimpang,
- terjadi reaksi browning (pencoklatan),
- penggembungan pada kemasan,
- warna yang menyimpang atau berubah dari yang semula,
- rasa yang menyimpang,
- adanya lubang atau bekas gigitan,
- terjadi penggumpalan atau pengerasan, dan
- adanya keretakan (pada telur).
Gambar 2. Proses Produksi Produk Pangan
Teknologi pun dimanfaatkan untuk memperpanjang umur simpan produk pangan dengan mempertahankan sifat-sifat kimia dan fisik bahan pangan. Berikut ini adalah macam-macam teknologi yang dimanfaatkan untuk memperpanjang umur simpan produk pangan:
- Penggunaan intervensi secara fisik pada pangan
- Pengemasan terpadu
- Pengalengan
- Penambahan gas nitrogen dalam kemasan plastik agar produk tetap renyah dan tidak remuk
- Pengeluaran oksigen (pengemasan vakum) untuk mencegah terjadinya reaksi oksidasi
- Pemakaian silica gel untuk menyerap uap air dan/atau oksigen
- Pengemasan dengan pemanasan suhu tinggi (retort) dengan menggunakan bahan kemasan tahan air dan dapat menghantarkan panas hingga ke produk yang sudah dikemas
- Pengemasan untuk penyimpanan beku yang tahan hingga di bawah 0°C
- Modified atmosphere packaging (MAP) atau controlled atmosphere packaging (CAP) dengan isi atmosfer terkendali untuk menjaga kualitas produk pangan di dalam kemasan (bisa dilengkapi dengan bahan antiembun atau penangkap gas etilen buah-buahan)
- Kemasan pintar (smart packaging), terdiri dari kemasan aktif (active packaging) yang memiliki antimikroba dan penyerap oksigen dan intelligent packaging yang memiliki indikator (warna, suhu, waktu, dan oksigen) untuk memastikan bahan makanan masih dapat dimanfaatkan
- Curing, penggaraman atau penambahan zat untuk mengurangi kandungan air
- Pengasapan, penambahan zat preservatif dengan asap
- Blansir/penceluran (blanching), perlakuan panas pendahuluan dengan perebusan atau pengukusan lalu langsung pendinginan dengan es
- Pasteurisasi, pemanasan di bawah 100°C
- Flash pasteurization: 85—95°C selama 2—3 detik
- HTST (high temperature short time): 72°C selama 15 detik
- LTLT (low temperature long time): 63—66°C selama 30 detik
- Sterilisasi, pemanasan pada suhu tinggi dalam periode yang cukup lama (≥ 100°C selama 15—30 menit)
- Evaporasi (pengurangan kadar air), pengurangan kadar air dengan pemekatan bahan
- Pengisian dalam kondisi panas (hot filling), pengemasan bahan cair dalam kondisi panas lalu dimasukkan ke dalam kemasan hermetis (pengalengan termasuk)
- Iradiasi, penggunaan gelombang mikro untuk meradiasi bahan
- Pengeringan/penjemuran
- Pemanggangan
- Penggorengan
- Penyangraian
- Dehidrasi, pengaliran udara panas untuk mengeringkan produk dengan konveksi kalor
- Pengeringan beku (freeze-drying), pengeringan dengan pembekuan bahan terlebih dahulu lalu tekanan dikurangi untuk menyublimkan air yang membeku
- Penambahan mikroorganisme untuk pengawetan: fermentasi
Macam-macam fermentasi:
- Berdasarkan sumber mikroorganisme: fermentasi alami (mikroorganisme sudah terdapat pada bahan), backslopping (mikroorganisme dari produk fermentasi yang berhasil), dan fermentasi terkontrol (mikroorganisme dari kultur murni)
- Berdasarkan kondisi media: fermentasi steril/aseptis (misal: untuk pembuatan minuman alkohol dan yoghurt) dan fermentasi semiaseptis (tidak atau kurang steril) (misal: untuk pembuatan tempe, kecap, dan kopi)
- Berdasarkan kebutuhan oksigen: fermentasi aerob dan fermentasi anaerob
- Berdasarkan produk hasil akhirnya: fermentasi alkohol, fermentasi asam laktat, fermentasi asam asetat, dan fermentasi asam propionat
- Berdasarkan pola fermentasi gula: fermentasi homofermentatif dan fermentasi heterofermentatif
- Berdasarkan proses kerja: batch culture fermentation, fed culture fermentation, semi-batch culture fermentation, dan continuous culture fermentation
- Berdasarkan bentuk medium dan hasil yang dihasilkannya:
- Kultur permukaan, pada medium padat, semipadat, dan cair
- Fermentasi padat (solid substrate fermenstation): medium tidak larut, tetapi cukup lembap untuk mikroba
- Fermentasi semipadat (submerged substrate fermentation): medium terendam tidak larut, kelembapan cukup
- Fermentasi cair (liquid substrate fermenstation): substrat larut dan atau tidak larut
- Kultur terendam, biasanya dalam alat bioreaktor
- Penambahan zat kimiawi sebagai bahan pengawet ke dalam produk pangan
- Asam sorbat dan garamnya
- Asam benzoat dan garamnya
- Sulfit atau sulfur dioksida
- Nitrit dan nitrat serta propionat
Tentu bahan-bahan kimia untuk pengawet perlu digunakan sesuai dengan aturan batas penggunaannya. Aturan penggunaan bahan kimia pengawet terdapat pada Peraturan Kepala BPOM RI No. 36 tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet.
Identifikasi kerusakan produk penting untuk mempertahankan jaminan dan janji dari usaha produk pangan yang berdiri, yang disebut dengan branding—tanda penetapan usaha produk pangan. Brand di sini harusnya telah mencakup pemenuhan standar mutu produk pangan yang berlaku. Oleh karena itu, pengemasan dan pengawetan untuk memperpanjang umur simpan berpengaruh terhadap branding dan marketing, terlebih karena permintaan akan produk pangan cukup tinggi. Umur simpan yang diperpanjang memudahkan untuk memenuhi permintaan konsumen. Dari situ, dibutuhkan teknologi tepat guna bagi pengusaha produk pangan. Selain itu, branding pada produk akan diperlihatkan lewat kemasan produk pangan pula.
Produk pangan yang ditawarkan kepada konsumen harus memenuhi kebutuhan konsumen secara nutrisional, emosional, ataupun fungsional. Oleh karenanya, branding dan produk pangan yang ditawarkan harus sesuai dengan informasi yang ada. Jika ketidakpercayaan konsumen timbul, terutama karena terdapat kerusakan pada produk pangan, konsumen tidak akan membeli produknya lagi lalu penjualan (selling) produk pangan dan branding pun gagal. Permintaan (demand) konsumen tidak terpenuhi, konsumen pun tidak akan melakukan pembelian ulang.
Gambar 4. Komponen Brand Produk Pangan
Terakhir, yang tidak kalah penting, observasi perilaku pembeli terhadap produk pangan dan pengamatan ke perusahaan yang lebih besar (benchmarking) dalam berhubungan ke para pelanggan melalui produk pangan juga diperlukan.
***
Materi didapatkan dari webinar "Akselerasi dan Branding Produk Pangan" yang diadakan AGAVI dengan pemateri Afina Rahmani, S.T., M.Sc. (food RnD consultant @ AGAVI) dan Wusda Hesta Ribawa (professional business coach @ Umar Usman) pada 31 Maret 2023: 8.30—12.00.
Langganan:
Postingan (Atom)




%20-%20Pemantauan%20keselamatan%20dan%20keberjalanan%20uji%20sesuai%20prosedur%20(S.png)









